Rabu, 23 Juni 2021

Menyusun Buku Saku; Panduan Mendukung Korban Kekerasan Seksual




Di akhir tahun 2020 kemarin, seorang teman, Rara mengajak bekerja dalam produksi buku saku yang sedang digarap oleh Seruan Perempuan Anging Mammiri (SP Anging Mammiri), yang juga merupakan bagian dari LBH Makassar. Di mana teman-teman di Seruan Perempuan Anging Mammiri berupaya mengedukasi dan mengadvokasi, memberi bantuan hukum penyintas Kekerasan Seksual dan peran pendampingan penyintas dalam pemulihannya. Salah satunya melalui perilisan buku saku Panduan Mendukung Korban Kekerasan Seksual ini. Saya senang dihubungi oleh Rara, karena berapa lama sebelumnya saya sedang belajar mengenai topik spesifik kekerasan berbasis gender. Sebagai mahasiswi, saya bergaul dan mendapati banyak kekerasan yang sangking lumrahnya mungkin kita tidak ‘ngeh kalau itu merupakan bagian dari kekerasan. Cukup banyak lingkungan masyarakat, anak muda khususnya yang masih awam dengan bentuk-bentuk kekerasan seksual di sekitarnya.

Rabu, 26 Mei 2021

Merancang Tata Letak dan Ilustrasi Buku Esai Bangku Depan

 




Sudah sejak Januari yang lalu saya dihubungi seorang senior dari kampus, Bang Jul, untuk mengerjakan buku esai dari penerbitan indie, Liyan Pustaka, yang sedang beliau garap. Tapi baru benar-benar bisa saya selesaikan 3 bulan kemudian. Buku kumpulan esai ini selain anak pertama Liyan Pustaka, juga buku pertama si penulis, Askar Nur. Buku ini memuat esai yang sebagian telah dimuat media kampus, media lokal dan media nasional sepanjang masa produktif kak Askar.


But tbh, sudah agak lama rasanya sejak terakhir saya mengerjakan layouting. Itupun saya melayout halaman koran, yang tentu saja berbeda dengan melayout sebuah buku. Masih banyak bingungnya. Terlebih saya sedang tidak dalam kondisi fisik yang nyaman.

Beruntung, ‘client’ saya sangat terbuka dan tidak mengekang saya mengenai deadline. Tentu saja Bang Jul beberapa kali menghubungi saya untuk memantau progress. Saya sedikit sungkan jika dalam berapa waktu istirahat tidak ada kemajuan signifikan. Tapi selama itu saya akan terus memberi kabar, hehe karena saya tahu rasanya digantung tidak enak, lebih enak diajak makan ga sih. Lagian saya kan sudah dipercayakan, jadi saya harus percaya diri (pdhl minder bgt aww) :’)





Untuk tulisan-tulisan kak Askar, kebanyakan sudah saya baca semua. Saya cukup update dengan karya teman-teman di lingkungan kampus. Meski ada juga beberapa tulisan  ̶yang dari dulu, bagi saya tidak sesuai dengan nilai pemahaman yang kuiyakan, namun kupikir perbedaan pandangan itu tidak semata untuk diperdebatkan saja. Ia juga menjadi bahan refleksi dan kita bisa belajar memancing pikiran kritis dari sana.


Kamis, 13 Mei 2021

Hari Lebaran 1442H/2021




Pagi tadi kami melaksanakan salat ied di Masjid Al Markaz Al Islami. Masjid lumayan penuh. Berbeda dengan lebaran tahun 2020 lalu yang cukup sepi bisa dibilang, prokesnya ketat dan masyarakat disarankan untuk salat ied di rumah bersama keluarga. Selesai salat ied, kami singgah ke rumah keluarga suami, di sini saya makan daging dan burasa’. Lalu ke rumah kakek, tidak lama, mungkin 45 menitan.


Sampai di rumah, saya dan suami cuma rebahan aja di kamar sambil ngobrol, tidak lama teman-teman suami datang. Baru pukul 11 siang, mungkin mereka masih kenyang abis makan sebelum ke sini, jadi saya memilih tidur siang. 


Tahu-tahunya saya terbangun sudah lewat pukul 2 siang dan dari kamar masih terdengar suara suami berbincang dengan teman-temannya.

Mau tidak mau saya mempersiapkan diri untuk menyuguhkan makanan, hiksss. Maaf responku miris, bukan apanya. Kami cuma punya ayam kari (pesan yang jadi di mama hehe) dari semalam, dan ketupat buras beli di pasar. Ketika saya panaskan di kukusan malah basah, lembek dan bentuknya tidak menggugah selera :( seperti yang barusan saya bilang, mau tidak mau banget lah saya menghidangkan ala kadarnya.

Soalnya ga nyangka hari ini bakalan ada tamu ke rumah kami.


Malamnya, teman-teman sekolahku juga datang. Saya ga perlu mikir keras dengan suguhan karenaaa tentu saja mereka bosan seharian makan ayam kari dan daging, maka mereka cuma minta dibuatkan Indomie. Gila sih Indomie ini. Selalu dicari tiap sore atau malam abis lebaran. Kalau gak Indomie, ya bakso Abang-Abang yang dicari.

Masuk maghrib saya dan suami kelaparan, baru ingat sisa ayam karinya lupa dimasukkan ke kulkas atau dipanaskan dulu… jadi sepanci itu basi semua. Istigfar banyak-banyak. Dosa banget menyia-nyiakan ayam kari. Hari jumat dan sabtu besok sudah ada jadwal mengunjungi rumah keluarga dan teman. Di hari minggunya giliran keluarga yang datang mengunjungi kami. Tapi soal masak sih sudah ada mama dan adek yang datang membantu.


Tepar abis beres-beres yang tidak seberapa, kami pun istirahat~ Sekian.



Selasa, 20 April 2021

Somethinc Ceramic Skin Savior Moisture Gel

 


Hai, hari ini saya akan berbagi ulasan mengenai local skincare yang lagi ngetrend banget nih,

Somethinc Ceramic Skin Savior Moisture Gel.

Sebenarnya kemarin maju mundur mau purchase ini, soalnya harganya pricey ;((

Belum ongkirnya yang lumayan~


Ini moisturizer Ceramic pertama yang saya coba. Salah satu manfaat Ceramic adalah memperkuat dan memperbaiki skin barrier. Ya, itulah pertimbanganku ingin mencoba produk ini. Kemarin kondisi kulitku memang sangat rentan, wajahku blushing bukan karena tersipu tapi redness parah! 




Full Ingredients:

Water, Glycerin, Dimethicone, Betaine, Butylene Glycol, Niacinamide, Pentylene Glycol, Hydrolyzed Sodium Hyaluronate, Carbomer, Polyacrylamide, Macadamia Integrifolia Seed Oil, C13-14 Isoparaffin, Caprylyl Glycol, Aminomethyl Propanol, Allantoin, Ethylhexylglycerin, Ceramide NP, Phytosphingosine, Avena Sativa (Oat) Kernel Extract, Laureth-7, Anthemis Nobilis Flower Extract, 1,2-Hexanediol, Hydrolyzed Algae Extract (Retired), Disodium EDTA, Polysorbate 20, Hydrolyzed Collagen, Caffeine, Magnesium Aspartate, Zinc Gluconate, Palmitoyl Tripeptide-1, Palmitoyl Tetrapeptide-7, Phenoxyethanol, Copper Gluconate, Tocopherol.


Highlight:

Free alcohol, free fragrance, dan essential oil.

Mengandung antioksidan: Avena Sativa (Oat) Kernel Extract, Caffeine, Tocopherol.

Kandungan yang melembapkan, menenangkan & menghaluskan kulit: Glycerin, Ceramide NP, Phytosphingosine, Allantoin, Avena Sativa (Oat) Kernel Extract, Anthemis Nobilis Flower Extract, Zinc Gluconate, Copper Gluconate, Betaine, Butylene Glycol, Niacinamide, Pentylene Glycol, Hydrolyzed Sodium Hyaluronate, Caprylyl Glycol, Hydrolyzed Collagen.



Ketika paket tiba, wih senang banget dong. Apalagi karena Ceramic Skin Savior ini punya packaging super gemas warna biru.




Packagingnya aman, ga bakal tumpah-tumpah, tapi bentuknya lumayan bulky jadi ambil banyak space di tas. Tapi moisturizer ini juga ada beberapa ukuran kok, mulai 5ml, 25ml, dan 50ml itu yang paling besar.


Cara ngambil isinya sangat higienis, tinggal dipump aja, keluar deh "seporsi" pelembab di bagian atas.




Teksturnya gel yang tidak begitu kental tapi ga light juga. Ada sedikitt wangi skincare yang masih aman, tidak mengganggu. Saya mencobanya pertama kali di malam hari, apply tipis-tipis karena ternyata agak butuh waktu nyerap sepenuhnya. Esok paginya, wajah terasa halus dan plumpy!

Saya memakainya cukup 1x pump aja, soalnya kalau 2x sudah berat banget di wajah, cenderung greasy kalau kebanyakan. Setelah 3 mingguan mencoba Ceramic Skin Savior, manfaat melembabkan dan menghidrasi kulit sudah pasti ada. Redness mereda. Hanya saja, efek soothing yang kubutuhkan tidak kurasakan. Selain itu, produk ini juga cocok di rangkaian night routine, tapi tidak cocok saat saya apply juga di morning routine, malah bikin wajahku kusam. Saya salah mengira jika dipakai banyak pun tak masalah, soalnya skin type-ku very dry. Tapi memang cocoknya dipakai secukupnya aja (seperti kata Hindia).


Ada efek instan glowingnya juga



Selain ingredient utama Ceramic yang bisa mencegah wrinkles juga mengandung Glycerin, Niacinamide untuk mencerahkan, Oat dan Caffeine untuk mencegah penuaan. Serta Hydrolyzed Marine Collagen memperkuat hidrasi kulit.


So far, kualitasnya oke. Tapi untuk repurchase sepertinya ga dulu, saya mau cari moisturizer yang lebih ringan dan soothing.




Sabtu, 10 April 2021

Herborist Lulur Bali Chocolate

 


Hai, hari ini saya mau mengulas satu bodycare lokal, Herborist Lulur Tradisional Chocolate 100gr. Kalian pasti sudah tidak asing dengan lulur Herborist, ya gak sih. Harganya murah dan dijual di mana-mana.


Sebenarnya sejak remaja, saya senang dengan kegiatan mandi. Terutama saat SMP. Sampai saya ditegur orang rumah karena kalau sudah di dalam kamar mandi pasti lama. Iyalah lama, pakai sabun aja bisa diulang sampai 3x. Itulah kenapa saat SMP, meskipun ikut Pramuka dan jalan kaki pulang pergi sekolah kulit saya tetap bersih dan cerah. Ditambah saya juga rajin memakai bodylotion.


Tapi begitu bertambah usia, terutama saat di bangku kuliah. Tidak bisa tuh saya berlama-lama mandi bahkan untuk memperhatikan bodycare. Kok gituu?! Seharusnya kesadaran akan pentingnya merawat kulit tubuh meningkat seiring bertambah dewasa. Termasuk juga minat dalam berpakaian (dalam hal kepatutan dan kerapian ya, bukan dalam artian mewah dan fancy).


Jumat, 02 April 2021

Review 1 Bulan Pemakaian: Avoskin Ultimate Hyaluron Marine Collagen 5% + Hyacross 2% + Galactomyces Toner (100ml)







Tidak banyak toner yang bisa saya pilih. Karena kulit wajah saya—memang bukan tipe berjerawat dan berminyak, tapi justru kering yang kering banget dan sensitif. Sehingga saya bingung setiap kali ingin memilih toner untuk dipakai. Dan ketemulah dengan produk toner Avoskin yang satu ini: Avoskin Your Skin Bae Ultimate Hyaluron Marine Collagen 5%  + Hyacross 2% + Galactomyces Toner.


Minggu, 10 Januari 2021

Kencan Bioskop Pertama dengan Suami

 



Terakhir saya menonton film sekitar awal Maret 2020, dan karena isu lockdown sudah beredar di ibukota Jakarta, saat itu saya berpikir bahwa hanya menghitung hari saja hingga kasus corona muncul di Makassar. Betul saja, tidak menunggu lama sudah ada pengumuman libur untuk semua situs di makassar termasuk kantor dan sekolah juga.


Tentu saja di masa awal pandemi siapa sih yang mau ngeluh ga bisa ke bioskop lagi. Semuanya bisa diatasi dengan OTT seperti Netflix, Iflix, dan lain-lain. Pokoknya musibah pandemi bakalan mengubah banyak pola hidup kita.


Terhitung 11 bulan saya tidak pernah nonton ke bioskop, akhirnya saya ke sana lagi ditemani suami untuk pertama kalinya. Itupun sebenarnya karena suami yang tertarik nonton filmnya Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba: Mugen Train. Tbh, saya belum tahu anime tersebut, jadi kalau langsung nonton filmnya bakalan susah ngerti. Tapi karena terlanjur sudah pesan tiket demi kencan sama suami saya gas lah marathon animenya 2 hari sebelum pergi nonton, panduan dari suami karena filmnya adalah season 2 dari animenya. Tentu saya tidak bisa 100% menyimak, maka banyak kali saya forward di scene yang panjang. Oh ya, tidak perlu worry sobat, sebab saya bersemedi sambil ‘dibimbing’ suami, biar tetap berada di jalur yang benar. Sungguh 2 hari yang sibuk.


Untuk pemesanan tiket, hanya berlaku online. Saya pesan tiketnya di aplikasi CGV. Di lokasi pun belum bisa order makanan, hehe, gabisa jajan popcorn gaes. Takpelah yang penting nonton sama suami yey.


Filmnya sedih sekali hiks, tapi tak mau spoiler, serius endingnya sad huhuhu. Yang sad-nya lagi, saat di pertengahan menuju di klimaks film, saya sempat tertidur (hehe) entah berapa lama mungkin karena kena mantra Enmu atau abis begadang malamnya maraton anime atau karena saya lapar, nyaris kehilangan momen epic.


Jumat, 27 Maret 2020

Corona dan Yuzuru Hanyu

Dokumentasi pribadi. Hari pertama bioskop CGV close karena pandemi.



Siapa yang sangka sebuah virus bisa meliburkan seluruh sekolah dan kantor selama 2 minggu. 2 minggu yang bisa berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saya takut membayangkan nasib manusia —bukan bumi tentu saja, bumi masih berotasi seperti biasa sampai hari kiamat tiba.


Tapi libur tidak berlaku untuk semua orang.

Banyak yang masih harus bekerja, meski penuh khawatir, untuk bekerja mencari nafkah di luar sana. 


Kalau kamu diliburkan oleh kantormu dan masih diberi gaji. Kamu 'sangat beruntung'. Kalau kamu masih bisa kerja dari rumah, tidak kehilangan pekerjaan, tentu kamu juga 'beruntung'.

Banyak karyawan, termasuk seseorang yang kukenal dipaksa untuk ‘resign’ dari pekerjaannya. Ini akal modus perusahaan agar tidak perlu memberi pesangon ketika karyawan yang meminta keluar, perusahaan tidak mau menanggung karyawannya selama lockdown.

Sabtu, 15 Februari 2020

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2020 di CGV Makassar




Festival Sinema Australia Indonesia atau disingkat FSAI diselenggarakan di Makassar pada hari ini, 15 Februari 2020. Tahun ini adalah tahun ke lima FSAI, yang (telah) dilaksanakan di lima kota besar Indonesia yaitu, Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Mataram, dan di Yogyakarta untuk pertama kali. FSAI 2020 adalah persembahan Australia Connect, menampilkan serangkaian sektor kreatif Australia yang berkembang pesat melalui musik, film, makanan, dan seni.


sumber

Selain membawa beragam sinema ke penonton Indonesia, FSAI memberikan kesempatan bagi mahasiswa film dan sineas muda berbakat untuk belajar dari pembuat film dan alumni Australia. Selain film Australia, ada juga beberapa film lokal Indonesia yang ditayangkan, seperti Bebas, Susi Susanti: Love All dan Kulari ke Pantai.

***


Berbeda saat Festival Film Jerman 2019 beberapa bulan yang lalu, kali ini di FSAI aku cukup beruntung bisa nonton 3 film.


sumber


Dari keempat film di atas, aku tidak kesampaian nonton Angel of Mine karena kehabisan tiket. Sistem pengambilan tiketnya adalah ambil satu jam sebelum pemutaran, atau bisa dibilang antri on the spot. Jadi, ketika sementara di dalam audi menonton Susi Susanti, tiket untuk film terakhir sudah habis. Tapi tidak apalah. Rasanya sudah senang bisa marathon 3 film bagus dan gratis. Di mana lagi kalau bukan di festival film. Banyak film bagus yang terbatas pemutarannya di festival tertentu dan tidak tersedia di platform film.


Bebas (2019)

Sebelumnya aku dan Ikha sudah menonton film Bebas bersama teman SMP kami, Yurika, September 2019 lalu saat ulang tahun kami. Tapi berhubung film ini sangat bagus dan rewatch material, sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Film ini adalah remake dari film Korea Selatan berjudul Sunny. Film Bebas dan Sunny secara plot memang sama, tapi tentu ada beberapa perbedaan menyesuaikan dengan kondisi dan budaya di Indonesia. Aku juga sangat suka dengan soundtracknya. 


Emu Runner (2018)

Film indie garapan Imogen Thomas ini berkisah tentang Gem, seorang anak perempuan suku Aborigin di Australia yang baru saja kehilangan ibunya secara mendadak. Kehilangan sosok ibu yang berdampak pada Gem dan keluarganya, membuat Gem melampiaskan dengan bermain di hutan dan berlari. Di sinilah Gem menjalin kedekatan dengan alam dan hewan. Gem ternyata bisa berkomunikasi dengan emu, binatang tradisional yang sering diceritakan oleh ibunya. Gem, si pelari cilik menggambarkan pemberontakan anak yang kehilangan kehangatan keluarga yang relatable dengan mengangkat unsur-unsur tradisional.


Susi Susanti: Love All (2019)

Adalah film biopik yang ditulis Syarika Bralini dan disutradarai Sim F. Sayang sekali aku baru menonton film keren ini. Dari mana saja aku?

Sejak kecil aku begitu kagum dan menghormati olahraga bulutangkis berkat para atletnya. Berdedikasi dan menebar motivasi. Termasuk legenda pebulu tangkis putri, Susi Susanti. Namanya selalu ada di deretan atlet berprestasi. Tapi aku ga nyangka lho ternyata beliau memang sekeren itu! Ih keren sekaliii mau sungkem.

Film ini tidak hanya menggambarkan kerja keras Susi Susanti menjadi atlet dunia, tapi juga perjalanan cintanya dengan sang suami yang juga atlet bulu tangkis, Alan Budikusuma. Ah, terima kasih FSAI, aku mendapatkan kehormatan untuk menonton film keren ini.


Bonus foto di sela jeda film: