Jumat, 09 September 2016

Hancurkan, Ralph!






Saya lagi bosan dan bete ya ampun brooo makanya saya berhasil menulis lagi setelah beberapa minggu blog ubur-ubur dianggurin. Oh jadi saya menulis cuma kalau lagi bosan doang? Oh jadi menulis di blog hanya opsi ke sekian sekian gitu? Ya, ya, judge me now.
Tapi tadi saya serius bilang lagi bete. Ah kapan sih Ekha lu gak bete? *ihhaa’       
Serius  lo ini.
Mau tau karena apa?          
Tanyain dong..        
Yah? yah?
Hening..
Dan emang gak penting ditanyakan.

Kita balik ke jalan yang benar ya, topik pembicaraan yang sebenarnya.
Baiklah, jadi begini ceritanya:
Pernah kah kalian, di suatu hari yang cerah, kalian menyadari, merenung, hal baik apa yang sudah kalian lakukan untuk orang lain. Apakah kalian cukup baik untuk diingat di setiap pembicaraan yang menyenangkan, atau cukup disayangkan bila tidak sempat hadir di suatu pertemuan. Apakah kalian ini sebakul nasi atau semangkuk acar?
Kemudian pikiran buruk itu datang. Kita merasa kurang baik, merasa tidak berguna, merasa terpinggirkan, lalu merasa harus menyalahkan hidup yang tidak adil.
Mungkin itulah yang dirasakan Ralph.
Ralph yang hidup dalam program game, Wreck It Ralph –err ralat, game Fix It Felix.
Ya, adalah Felix yang menjadi karakter utama game tersebut, bukan Ralph. Jadi ngapain namanya Ralph yang nampang di judul game itu.
Tapi Ralph-lah yang menjadi tokoh utama di film animasi besutan Disney, Wreck It Ralph, bukan Felix.
Ralph adalah lelaki tradisional yang lahir, besar, dan hidup di hutan. Badannya besar, sesuai dengan tangan besarnya yang kuat. Baginya, hutan adalah segalanya –segala kebahagian yang bisa kausebutkan, ibunya, kekasihnya, rumahnya, permatanya, dan pelindungnya.
Kita tahu, sesuatu yang tradisional harus selalu berusaha keras untuk bertahan. Bertahan di tengah gempuran modernisasi. Dan segera itulah yang harus diterima Ralph, saat hutan  diinvasi orang-orang kota. Sebuah apartemen dibangun di situ!

Selamat Datang Adik-adik Maba






SELAMAT MENEMPUH HIDUP SEMESTER BARU GAES.

Saya sendiri sudah memasuki semester 5, huaah how time flies

By the way, selamat datang adik-adik maba yang minggu lalu selesai di ospek ciee, selamat berjuang dalam studi, selamat bergulat dalam perantauan, dan selamat bertemu orang-orang baru, ya pokoknya usahakan sampai di “tujuan” dengan selamat hahaha.

Karena oh karena kita tidak tahu, hal apa yang menanti di depan kita.

Tapi kita semua tahu fakta bahwa kehidupan SMA/sederajat berbeda dengan kehidupan perkuliahan. Ada orang yang secara mentalitas belum siap, akhirnya menyerah dan berhenti di tengah jalan, astaga bro begini, kalau mau berhenti di pinggir jalan dong, biar gak bikin jalanan macet, ih apakah Ekha, krik krik.


Kalau bisa diumpamakan nah, kalau bisa, memasuki kehidupan kampus seperti mengikuti The Hunger Games. Kita lagi hidup asyik masyuk tiba-tiba nama kita yang  keluar undiannya. Kalau undian arisan sih enak, bisa pergi kanmakan, tapi disini kita harus berjuang, mau tak mau harus belajar cara untuk bertahan hidup, juga bertahan menahan godaan. Terutama bagi anak-anak perantauan yang jauh dari keluarganya.

Di The Hunger Games, ada sejumlah aturan main yang dirancang oleh Capitol. Begitu pun di kampus, kita semua berada dalam lingkaran, persegi, segitiga, atau apa pun bentuknya, kita mahasiswa berada di dalam BATAS yang telah dibuat oleh birokrasi. Yang perlu kita lakukan hanya menjaga langkah agar tidak offside, patuh sebagaimana seorang pengendara diatur marka jalan yang bisu. Jadi kedengarannya seperti mahasiswa bukan mengikuti sistem, tapi bagian dari sistem itu sendiri. Eh bicara apa saya ini.

Dan lagi di The Hunger Games, aturan sempat diubah seenak jidat demi mendongkrak sensualitas permainan, demi kepuasaan penonton, tanpa membuka mata dengan penderitaan dan resiko yang dihadapi para tribut, ah jangan lupa tribut-tribut ini punya keluarga. Bayangkan anak-anak kalian, yang masih muda, diambil secara acak mewakili distrik untuk kemudian diadu, ini manusia, bukan ayam jago men.

Jika di filmnya para tribut mau tak mau harus membunuh atau dibunuh secara harfiah, tapi di kehidupan kampus, yang bisa saja terbunuh adalah kebebasan, atau yang paling sedihnya, karakter. Karakter mahasiswa akan perlahan-lahan mati suri. Sebenarnya karakter itu sendiri apa? Kebebasan apa? Entahlah. Seseorang tolong jelaskan.


Kalau diumpamakan lagi, duh maafkan, dari tadi saya bisanya cuma berumpama. Kita semua adalah anak yang disuapi ikan teri, dari kepala, badan sampai ekor semua masuk ke mulut, bodo amat ikan terinya digoreng atau direbus, dipancing di laut atau dibeli di pasar. Seperti itu. 

Terlepas dari itu, terserah kalian sih bagaimana menginterpretasinya, atau kalian mau berbagi pemikiran? Boleh lah. Kebetulan saya suka mendengarkan.

Dear adik-adik maba, selamat menyandang gelar “maha”siswa, belajarlah dengan baik, kalian harus dan pasti bisa lebih baik.

Jangan jadi saya. Jangan. Ah apalah saya ini, hanya acar di meja prasmanan.


Anyway, sekali lagi selamat datang di semester baru!