Selasa, 28 Februari 2017

Picnic At The Bus Transmamminasata




Kelas 3 SD adalah terakhir kali aku merasakan naik bus Damri. Waktu itu aku menemani almarhumah nenek mengunjungi rumah salah seorang saudarinya di Kabupaten Gowa, tepatnya daerah Pallangga dekat stadion Kalegowa.

Posisi duduk andalan tentu saja di bagian belakang, dan aku senang sekali kalau kebagian tempat duduk paling belakang dan samping jendela. Karena posisi bangku belakang lebih tinggi dari bangku lainnya.

Selain itu, aku sebisa mungkin menghindari angin dari jendela yang terbuka dan ac kendaraan, soalnya aku ini tipis, mudah sekali masuk angin hahaha.

Serius. 

Penyakit sedikit-sedikit-masuk-angin ini begitu menyusahkan dan menganggu integritasku sebagai penikmat perjalanan jarak jauh
*cyah

Setelah bus tidak beroperasi lagi, angkot atau bekennya di sini disebut pete'-pete' ini kemudian menjadi andalan masyarakat untuk bepergian ke daerah sekitaran kota. 

Tapi nampaknya jumlah pete-pete' yang mengaspal di jalan raya begitu banyak dan kerap menjadi biang kemacetan saat mengambil, menurunkan, dan menunggu penumpang di bahu jalan, terutama di tempat publik yang sebenarnya di pinggir jalan tersebut sudah disesaki kendaraan yang parkir. 

Dan kemudian Makassar butuh diupgrade perihal transportasi publiknya. Faktanya, banyaknya angkot yang kerap menimbulkan macet dan ngetem di bahu jalan, sopir ugal-ugalan, dan kejahatan di jalan yang terjadi membuat warga (termasuk daku) mendambakan transportasi publik yang nyaman dan aman.

Ah sebelumnya maaf tulisan ini bukan bermaksud untuk sok tahu, menyinggung atau merendahkan pihak tertentu, bukan kok. Stay positive ya.

Oke kembali membicarakan bus, saat pertama mendengar berita comebacknya *tjieh bahasanya dengan wujud yang lebih oke, aku dengan semangat dan antusias yang sebenarnya tidak begitu perlu, sangat sangat ingin untuk naik bus ini. Tinggal cari waktu, juga travelmate dong. Emang mau kemana? Ya tidak ada tujuan mau kemana sih tapi di sini tujuanku kan naik bus keliling kota, terserah aku kan hahaha 


Kamis, 16 Februari 2017

Redwin Sorbolene, Bukan Sekadar Moisturizer

review redwin sorbolene februari 2017



Halo sahabat. 

Blog ini memang bukan blog berniche beauty tapi aku tidak bisa menolak saat melihat pengumuman lomba review produk Redwin Sorbolene. 

Jadi harusnya artikel review ini diikutkan dalam kompetisi blog, tapi sayang seribu sayang, aku tidak sempat untuk submit tulisanku sampai pada deadline yang ditentukan kemarin. Uwuwu

Aku sangat sibuk, bahkan setelah postingan terakhirku di tahun 2016, harusnya aku tidak menunda untuk submit tapi akh sudah kubilang betul-betul tidak sempat. Arg. 

Sehingga meski aku gagal mengikuti kompetisi blog sebagaimana mestinya, aku yang sudah dikirimi produk Redwin Sorbolene, akan tetap menuliskan review di brosurnya.

Rabu, 01 Februari 2017

Dunia Tanpa Sop Ubi





Pertama-tama aku ingin berterimakasih pada leluhur kita yang meracik kuah segar, bihun, toge dan sayuran lain kemudian dikawinkan dengan ubi goreng, dibubuhi goreng kacang, dan kadang disertai irisan daging. Hei jangan lupa, telur rebus! Terima kasih juga kepada seseorang -ibuku, yang akhirnya menjejalkan rasa sedap itu kepada aku, yang dalam urusan makan sebenarnya sangat selektif, tapi sebab perihal makan yang kusejajarkan dengan proses respirasi (keduanya kita lakukan untuk terus hidup, kan?) aku harus mengenyampingkan egoku itu dan selama itu baik, bismillah dan makan saja. 

Jika saja aku makan sop ubi, sedang di meja yang sama teronggok cantik seporsi gado-gado, gado-gado itu mestilah merasa terdiskriminasi. Aku menikmati sop ubi bertoge itu, sedang gado-gado pun bertoge tapi tidak pernah mau kusentuh. Sedikit merasa bersalah sih.

Apa jadinya dunia yang kukenal jika sop ubi tidak pernah ada?

Mungkin tidak banyak pengaruhnya. Kalian tahulah ada begitu banyak resep masakan berbahan dasar singkong di dunia ini, meski jika dipersempit di kota Makassar saja. Ada banyak sekali bung. Singkong tidak akan menganggur meski resep sop ubi bahkan tidak pernah ada. 

Tapi bagaimana jadinya dengan (kita anggap saja ada) 1000 warung sop ubi di kota ini? Apa mereka kemudian akan tetap membuka warung, menjajakan masakan berbahan dasar singkong lainnya? Bisa jadi perkedel singkong, putu mayang, poteng, bolu singkong, atau sekadar singkong goreng. Ah. Sepertinya jangan.

Lagipula aneh sekali mempertanyakan hal tersebut.
Mempertanyakan perihal eksistensi sop ubi.
Di telingaku sama saja kau pertanyakan apa jadinya jika aku tidak mengenalmu. Pertanyaan gila. Sebenarnya tidak gila juga. Hanya aku malas berpikir. Ini pasti karena aku lapar. Berhenti bertanya, sekarang temani aku ke pasar, aku ingin membeli singkong dan sebungkus bihun.