Rabu, 01 Februari 2017

Dunia Tanpa Sop Ubi





Pertama-tama aku ingin berterimakasih pada leluhur kita yang meracik kuah segar, bihun, toge dan sayuran lain kemudian dikawinkan dengan ubi goreng, dibubuhi goreng kacang, dan kadang disertai irisan daging. Hei jangan lupa, telur rebus! Terima kasih juga kepada seseorang -ibuku, yang akhirnya menjejalkan rasa sedap itu kepada aku, yang dalam urusan makan sebenarnya sangat selektif, tapi sebab perihal makan yang kusejajarkan dengan proses respirasi (keduanya kita lakukan untuk terus hidup, kan?) aku harus mengenyampingkan egoku itu dan selama itu baik, bismillah dan makan saja. 

Jika saja aku makan sop ubi, sedang di meja yang sama teronggok cantik seporsi gado-gado, gado-gado itu mestilah merasa terdiskriminasi. Aku menikmati sop ubi bertoge itu, sedang gado-gado pun bertoge tapi tidak pernah mau kusentuh. Sedikit merasa bersalah sih.

Apa jadinya dunia yang kukenal jika sop ubi tidak pernah ada?

Mungkin tidak banyak pengaruhnya. Kalian tahulah ada begitu banyak resep masakan berbahan dasar singkong di dunia ini, meski jika dipersempit di kota Makassar saja. Ada banyak sekali bung. Singkong tidak akan menganggur meski resep sop ubi bahkan tidak pernah ada. 

Tapi bagaimana jadinya dengan (kita anggap saja ada) 1000 warung sop ubi di kota ini? Apa mereka kemudian akan tetap membuka warung, menjajakan masakan berbahan dasar singkong lainnya? Bisa jadi perkedel singkong, putu mayang, poteng, bolu singkong, atau sekadar singkong goreng. Ah. Sepertinya jangan.

Lagipula aneh sekali mempertanyakan hal tersebut.
Mempertanyakan perihal eksistensi sop ubi.
Di telingaku sama saja kau pertanyakan apa jadinya jika aku tidak mengenalmu. Pertanyaan gila. Sebenarnya tidak gila juga. Hanya aku malas berpikir. Ini pasti karena aku lapar. Berhenti bertanya, sekarang temani aku ke pasar, aku ingin membeli singkong dan sebungkus bihun.