Senin, 03 Juli 2017

Takut



Malam tadi aku berfikir tentang ketakutan. Kupikir,  setiap orang punya ketakutannya masing-masing. 

Malam, berlaku untuk sebagian orang, adalah waktu mereka akan merasakan ketakutan-ketakutannya. 
Adik sepupuku takut kala malam akan melihat yang "lucu-lucu".
Ibunya,  takut anaknya ketakutan.
Mendengar cerita tante dan sepupuku, adikku ikut-ikutan takut keluar malam sejak itu. 

Tapi takut tidak mengenal waktu dan tempat.
Teman SMP-ku dulu, sebut saja W pernah histeris sambil berjingkat di atas kursi karena.. seekor laba-laba kecil. Iya,  laba-laba kecil yang dulu kalian ambil trus sengaja disodok-sodok di pergelangan tangan, biar digigit dan berubah jadi mutan keren seperti Spiderman. Takut itu seperti perasaan suka, ya, kan? relatif.

Ada juga temanku yang takut makan ikan lagi setelah tersedak tulang ikan. Bukan cuma ikan, pokoknya makanan seafood ia tak mau sentuh.

Beda dengan ketakutan akan materi, ketakutan yang sesungguhnya adalah takut yang muncul dijemput oleh prasangka. Misal rasa takut karena kecintaannya pada dirinya. Jenis ketakutan itu akan mendorongnya melindungi diri. Perlindungan diri semisal pencitraan.
Ah, aku jadi teringat postinganku yang sebelumnya perihal pencitraan si fulana :(
Aku tidak suka dengan muka duanya. Lantas sadar aku juga tidak suka ideku untuk menulisnya dalam postingan sebelumnya.

Tadi kubilang setiap orang punya ketakutannya masing-masing, ya, kan? 
Akhirnya aku tahu takutku. 

Aku takut tumbuh dewasa menjadi wanita tua menyebalkan. 

Selasa, 16 Mei 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realize how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.

Senin, 27 Maret 2017

Urban GiGs Mocca X Payung Teduh

RIP kamera HP



Sebenarnya aku tidak merencanakan sama sekali untuk keluar minggu malam kemarin sebelum adek aku ni bilang why nott kita nonton Mocca dan Payung Teduh. Kupikir ya juga sih, ini Mocca dan Payung Teduh! Jadilah kami bertiga, aku, ikha, dan ugha, pada jam itu juga bergegas melipir ke Taman Pakui Sayang (iya sayang~)

Oh iya, gigs ini gratis tis tis. Kalau aku ga datang kemarin tentu saja akan jadi penyesalan dan membebani pikiranku untuk bertahun-tahun kemudian lol. By the way, baru kali ini juga aku ke gigs atau event bertiga sama adik hehe. Trus pas di entrance petugas meminta identitas. Kupikir ya setidaknya “menyeleksi” pengunjung (meski dugaan itu salah saat di pertengahan sampai ending acara)

kayak anak nyasar


Aku dan Ikha duduk menggelesot di rerumputan dengan mengambil posisi dekat dengan panggung, Ugha lebih memilih menonton ke pinggir di mana banyak orang merokok. Sekitar pukul 19.00, Mocca perform terlebih dahulu dengan beberapa lagu yang wajib ada di riding playlist-ku. Rasanya mau menangis mendengar live Mocca, terutama saat aku berdadah-dadah ke panggung dan Arina Ephipania balas melambai dengan ramahnya. She is the friendliest performer in the world.

Tiba-tiba suasana cukup dingin dan windy, diikuti tetesan-tetesan kecil air. Ternyata turun hujan. Siapa sangka? Jujur aku ga nyangka tapi si Ikha bawa payung! Katanya dia bawa payung buat jaga-jaga. Akhirnya kita sepayung berdua~

Setelah beberapa lagu, Payung Teduh naik ke stage dan berkolaborasi dengan Mocca! Kerumunan bertambah padat. Tahu lah ya, Payung Teduh lagi hype sekali. Hujan semakin deras, dan penonton “punk” semakin memanas. Sampai meja kayu, payung booth terangkat-angkat massa. Aku dan adik-adikku memutuskan balik duluan meski Payung Teduh belum selesai perform T_T

Saat di parkiran aku sudah mendengar Bang Is menegur penonton dengan bahasa kotor lokal. Lagian aneh bgttt penontonnya, Payung Teduh jelas-jelas band Indie folk jazzy, bukan Hard Rock atau Metal. Mana banyak bocil lagi, padahal ini gigs 18+ dan mestinya butuh identitas seperti KTP di entrance. But overall, I was so happy as there were butterflies flying inside me ehe


Selasa, 28 Februari 2017

Picnic At The Bus Transmamminasata




Kelas 3 SD adalah terakhir kali aku merasakan naik bus Damri. Waktu itu aku menemani almarhumah nenek mengunjungi rumah salah seorang saudarinya di Kabupaten Gowa, tepatnya daerah Pallangga dekat stadion Kalegowa.

Posisi duduk andalan tentu saja di bagian belakang, dan aku senang sekali kalau kebagian tempat duduk paling belakang dan samping jendela. Karena posisi bangku belakang lebih tinggi dari bangku lainnya.

Selain itu, aku sebisa mungkin menghindari angin dari jendela yang terbuka dan ac kendaraan, soalnya aku ini tipis, mudah sekali masuk angin hahaha.

Serius. 

Penyakit sedikit-sedikit-masuk-angin ini begitu menyusahkan dan menganggu integritasku sebagai penikmat perjalanan jarak jauh
*cyah

Setelah bus tidak beroperasi lagi, angkot atau bekennya di sini disebut pete'-pete' ini kemudian menjadi andalan masyarakat untuk bepergian ke daerah sekitaran kota. 

Tapi nampaknya jumlah pete-pete' yang mengaspal di jalan raya begitu banyak dan kerap menjadi biang kemacetan saat mengambil, menurunkan, dan menunggu penumpang di bahu jalan, terutama di tempat publik yang sebenarnya di pinggir jalan tersebut sudah disesaki kendaraan yang parkir. 

Dan kemudian Makassar butuh diupgrade perihal transportasi publiknya. Faktanya, banyaknya angkot yang kerap menimbulkan macet dan ngetem di bahu jalan, sopir ugal-ugalan, dan kejahatan di jalan yang terjadi membuat warga (termasuk daku) mendambakan transportasi publik yang nyaman dan aman.

Ah sebelumnya maaf tulisan ini bukan bermaksud untuk sok tahu, menyinggung atau merendahkan pihak tertentu, bukan kok. Stay positive ya.

Oke kembali membicarakan bus, saat pertama mendengar berita comebacknya *tjieh bahasanya dengan wujud yang lebih oke, aku dengan semangat dan antusias yang sebenarnya tidak begitu perlu, sangat sangat ingin untuk naik bus ini. Tinggal cari waktu, juga travelmate dong. Emang mau kemana? Ya tidak ada tujuan mau kemana sih tapi di sini tujuanku kan naik bus keliling kota, terserah aku kan hahaha 


Kamis, 16 Februari 2017

Redwin Sorbolene, Bukan Sekadar Moisturizer

review redwin sorbolene februari 2017



Halo sahabat. 

Blog ini memang bukan blog berniche beauty tapi aku tidak bisa menolak saat melihat pengumuman lomba review produk Redwin Sorbolene. 

Jadi harusnya artikel review ini diikutkan dalam kompetisi blog, tapi sayang seribu sayang, aku tidak sempat untuk submit tulisanku sampai pada deadline yang ditentukan kemarin. Uwuwu

Aku sangat sibuk, bahkan setelah postingan terakhirku di tahun 2016, harusnya aku tidak menunda untuk submit tapi akh sudah kubilang betul-betul tidak sempat. Arg. 

Sehingga meski aku gagal mengikuti kompetisi blog sebagaimana mestinya, aku yang sudah dikirimi produk Redwin Sorbolene, akan tetap menuliskan review di brosurnya.

Rabu, 01 Februari 2017

Dunia Tanpa Sop Ubi





Pertama-tama aku ingin berterimakasih pada leluhur kita yang meracik kuah segar, bihun, toge dan sayuran lain kemudian dikawinkan dengan ubi goreng, dibubuhi goreng kacang, dan kadang disertai irisan daging. Hei jangan lupa, telur rebus! Terima kasih juga kepada seseorang -ibuku, yang akhirnya menjejalkan rasa sedap itu kepada aku, yang dalam urusan makan sebenarnya sangat selektif, tapi sebab perihal makan yang kusejajarkan dengan proses respirasi (keduanya kita lakukan untuk terus hidup, kan?) aku harus mengenyampingkan egoku itu dan selama itu baik, bismillah dan makan saja. 

Jika saja aku makan sop ubi, sedang di meja yang sama teronggok cantik seporsi gado-gado, gado-gado itu mestilah merasa terdiskriminasi. Aku menikmati sop ubi bertoge itu, sedang gado-gado pun bertoge tapi tidak pernah mau kusentuh. Sedikit merasa bersalah sih.

Apa jadinya dunia yang kukenal jika sop ubi tidak pernah ada?

Mungkin tidak banyak pengaruhnya. Kalian tahulah ada begitu banyak resep masakan berbahan dasar singkong di dunia ini, meski jika dipersempit di kota Makassar saja. Ada banyak sekali bung. Singkong tidak akan menganggur meski resep sop ubi bahkan tidak pernah ada. 

Tapi bagaimana jadinya dengan (kita anggap saja ada) 1000 warung sop ubi di kota ini? Apa mereka kemudian akan tetap membuka warung, menjajakan masakan berbahan dasar singkong lainnya? Bisa jadi perkedel singkong, putu mayang, poteng, bolu singkong, atau sekadar singkong goreng. Ah. Sepertinya jangan.

Lagipula aneh sekali mempertanyakan hal tersebut.
Mempertanyakan perihal eksistensi sop ubi.
Di telingaku sama saja kau pertanyakan apa jadinya jika aku tidak mengenalmu. Pertanyaan gila. Sebenarnya tidak gila juga. Hanya aku malas berpikir. Ini pasti karena aku lapar. Berhenti bertanya, sekarang temani aku ke pasar, aku ingin membeli singkong dan sebungkus bihun. 

Selasa, 31 Januari 2017

The Premier of The Fall of The Imam



Kami begitu deg-degan mengetahui bahwa The Fall of The Imam akan menjadi film yang pertama diputar di ELE 2017.


Meski filmnya diproduksi dengan amat sederhana (haha ayolah) tapi sebuah kesenangan dan kehormatan bagi kami bisa menyajikan film ini di hadapan ribuan penonton yang hadir di Auditorium kampus 2 UIN Alauddin Makassar. 

Rasanya setelah menunggu film ini akhirnya tayang, seperti sedang memendam kerinduan akan seseorang *ciaah apaan. 

Film the Fall of The Imam adalah film yang kami adaptasi dari novel karya seorang aktivis feminis mesir, Nawal El Saadawi dengan judul yang sama. Kalau dalam versi Indonesia, judulnya adalah Jatuhnya Sang Imam. 


Sinopsis:

Mundur beberapa tahun silam, ada sebuah kisah tentang seorang saleh, yang disegani dan dijadikan panutan di desa yang ia tinggali. Sebagai desa yang jauh dari peradaban kota, penduduk desa masih sangat tradisional dan menjunjung norma adat dan agama. Bagi penduduk desa, Sang Imam adalah pemimpin dan anjurannya sebagai titah. Termasuk aturan Sang Imam menjalankan tes keperawanan di desa agar penduduknya terhindar dari perbuatan zina.

Di desa yang sama, hidup seorang gadis remaja bersama ibu angkatnya, Zulaika. Tidak ada yang tahu siapa dan dimana orangtuanya. Oleh karenanya ia dinamakan Bintullah, yang artinya putri Tuhan. Siapa yang tahu, seorang gadis muda sepertinya bisa menjadi saksi dan bukti jatuhnya Sang Imam.


Para pemain: 

·        Fitrah Ahmady Amri sebagai Sang Imam
·        Dita sebagai Bintullah
·        Nurul Izmy sebagai Ibu Zulaikha
·        Taswin sebagai imam masjid
·        Andi Ahmad Zahri Nafis sebagai penulis besar
·        Muh Fachri Zulqadri sebagai eksekutor
·        Muhammad Guntur sebagai pengawal 1
·        Syarifuddin sebagai pengawal 2
·        Khaeran Sadri sebagai pengawal 3
·        Agia Linda Ratnasari sebagai istri pertama
·        Nurhidayatillah sebagai istri kedua
·        Ismi Faradhila sebagai istri ketiga
·        Makkawaru sebagai Kate (istri keempat)
·        Muh Yahya Rahman sebagai penghujat
Semua pemain dan figuran tentu saja dari kelas AG34.

Bukannya melankolis ya, tapi serius deh, melihat karya yang dibuat bersama-sama, membuat lega sekaligus terharu, terutama melihat respon penonton *tjiah
Kerja keras terbayarkan, semua kesulitan yang kami hadapi kemarin saat pembuatan film tidak ada apa-apanya dengan kelegaan ini. Huaah *peluk AG34 satu-persatu.

Penasaran dengan trailernya? Ini dia:


  


Oke jujur saja, film ini banyak banyak banyak kekurangannya entah itu dari segi audio, visual, dan segala macamnya. Tapi ada banyak pengalaman yang kami bisa jadikan pelajaran dari sejak itu. Secara cerita pun, ada nilai hidup yang bisa kalian ambil. Cukup itu aja sih.

Terakhir cuma mau bilang, terus berbahagia!

ELE 2017 dan Keriuhan yang Belum Reda



Aurelia-aurita-blog



Sampai berapa lama suatu peristiwa mampu bertahan menjadi bahan obrolan hangat yang seakan tidak ada habisnya untuk dibahas? Satu minggu? Dua Minggu? Entahlah. Hari ini adalah minggu ketiga pasca ELE dan sebelum keriuhannya benar-benar reda dan akhirnya menjadi kenangan pembuka tahun 2017, aku akan menuliskannya sedikit. Ya, sedikit dari banyak sekali cerita yang muncul berkat ELE.

Jadi tahun ini adalah giliran angkatanku untuk menjadi pelaksana Elexhibition. Elexhibition atau biasa juga kami sebut ELE merupakan singkatan dari English Literature Exhibition.

Meski sudah lewat dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11-12 Januari tapi masih banyak rasa yang tertinggal di perhelatan tahunan anak jurusan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar ini, uhuyy. Oke mungkin bagi beberapa orang yang terlibat, iya seperti itulah.




Tema tahun ini adalah Islamorphosa. Setidaknya sampai dua minggu menjelang hari H. Jadi, saat beberapa bulan sebelumnya kami mengadakan rapat angkatan untuk menentukan tema kegiatan, ada beberapa usulan yang masuk, termasuk aku yang saat itu mengusulkan tema Islamorphosa ini. Sedihnya, banyak yang bingung dengan tema usulanku ini, bahkan saat voting, hanya 4 orang (doang) yang memberikan suara. Bahkan aku mendengar komentar semacam, "bisa gak usulnya jangan yang aneh-aneh begitu?"

And theeeen you know what? Di bulan terakhir persiapan ELE temanya diganti, dan Islamorphosa didapuk jadi tema tahun ini, huh apaan.





ELE bukan hanya pementasan yang wajib kami lakukan atas nama tugas akhir semester lima saja. ELE lebih dari itu. Meski pentasnya (hanya) 2 hari saja di bulan Januari, tapi persiapannya sendiri sudah sejak awal semester lima. Jadi kira-kira ada tiga bulan waktu kami untuk banting tulang mempersiapkan diri.

Panitia ELE terdiri dari perwakilan setiap kelas, sisanya pemain. Entah itu panitia atau bukan, masing-masing berjuang demi kesuksesan acara.