Selasa, 29 Oktober 2019

Senjakala Kota Nelayan




Oleh: Ekha Nuh
Sabtu kemarin akhirnya saya dan seorang teman berkesempatan lagi berkunjung ke Pantai Marbo di Tallo, Kota Makassar. Kali ini kami ikut nobar film Silent Blues of The Ocean atau “Senandung Sunyi Samudra” yang diadakan Ruang Abstrak Literasi. Pemutaran film ini menghadirkan 3 pembicara, Ibu Saenab sebagai perwakilan nelayan perempuan, Pak Amir yang juga nelayan setempat dan Rifal Najering, sejarawan maritim. Kami berdua sudah tiba di Pantai Marbo sore, sekitar 3 jam sebelum nobar mulai dan masih sempat melihat gelora senja di balik pondasi timbunan beberapa meter tepat di depan. Tenang, berlumpur, berminyak, sampah terapung, dan tak ada riak air. Pemandangan laut yang biasa ditemui di semua pantai proyek reklamasi.


Kawasan Tallo adalah salah satu kampung nelayan tertua di Makassar, yang meski pemukiman ini merupakan salah satu identitas kota Makassar sebagai kota pesisir, namun keberadaannya sendiri tidak banyak diketahui, kalau fakta itu salah, coba tanya teman-teman kalian yang berasal dari Makassar, apakah mereka atau bahkan kalian sendiri pernah mendengar dengan Panti Marbo dan kampung nelayan Tallo? Selain dari lokasinya yang memang berada di pinggiran kota, kalian akan setuju kalau nanti melihat sendiri betapa terpinggirkannya kampung nelayan ini. Kampung Tallo ini termasuk kawasan pesisir yang “terbenahi” alias terkena dampak reklamasi di Makassar. Bukannya mendapat perhatian untuk kesejahteraan keluarga nelayan dan para penduduk dengan mengembangkan potensi di Zona Ekonomi Eksklusif secara optimal, malah terancam kehilangan sumber penghidupannya, yang bisa dibilang sebagian besar dari mereka bergantung sepenuhnya pada hasil melaut. Timbunan reklamasi di bibir pantai ini barang pasti menutupi akses penangkapan ikan di sekitarnya, bahkan mengganggu keadaan beberapa varietas ikan dan kerang. Para nelayan kemudian terpaksa mencari dan menangkap ikan dengan jarak yang lebih jauh hingga ke tengah laut. Tentu hal itu sangat membebani nelayan karena harus membeli lebih banyak bahan bakar, imbasnya lagi pendapatan nelayan jadi menurun. Seusai pemutaran film dan diskusi, saya sempat berbincang dengan Ibu Saenab, yang membenarkan, pendapatan mereka dari hasil melaut jika dikalkulasikan hanya 10 sampai 15 ribu saja per hari−itu pun sudah cukup beruntung.
Ibu Saenab, mewakili suara para perempuan nelayan yang menggantungkan penghidupan keluarga dari hasil melaut. Kembali ke tahun-tahun sebelumnya, pencanangan reklamasi di depan pemukiman mereka, untuk itu pihak pemerintah dan pengemang sudah menjanjikan adanya kompensasi untuk nelayan. Namun, hanya sampai ditahap pendataan saja. Belum ada tanda-tanda pasti kapan hak-hak nelayan akan diberikan. Lebih lanjut Ibu Saenab menjelaskan pilihan solusi kolektif untuk nelayan dibutuhkan lebih baik daripada ketidakpastian yang saat ini mereka rasakan. Mereka sudah bosan dijanji terus, tanpa garansi, sementara keluarga harus terus dihidupi.

Semua orang gerah dengan ketidakpastian nasib. Mata pencaharian terancam hilang dan pihak yang harusnya bertanggung jawab tetap bergeming. Kami merasakan betul keresahan itu dengan mendengar dari Pak Amir. Setiap hari penduduk harus melihat proyek yang merampas ladang mereka tepat di depan rumahnya. Pak Amir juga mengatakan bahwa warga sudah melayangkan undangan pertemuan namun belum digubris. Untuk sekarang, warga masih berjuang menuntut solusi dari permasalahan ini.




Sebelum diskusi tersebut, terlebih dahulu diputarkan film dokumenter “Senandung Sunyi Samudra". Film dokumenter yang reflektif ini, menarasikan kehidupan pasca adanya reklamasi, entah film ini dinilai berorientasi akademik atau bisa juga dipandang sebagai salah satu alat perjuangan kelas. Manusia terbentuk menjadi sesuatu karena adanya fakta yang menopangnya. Ada fakta yang membuat masyarakat menjadi miskin. Dan fakta itu menyerempet dalam rangka memenuhi kebutuhannya, perubahan cara mereka memenuhi kehidupannya berpengaruh pada kehidupan mereka selanjutnya, termasuk kebutuhan urgent lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Film ini menghadirkan keseharian beberapa warga eks nelayan setelah sumber pencaharian alam mereka terebut, salah satunya pemulung atau yang kita sebut dengan payabo.

Dampak konstruksi alam bagi masyarakat kampung pesisir bisa lebih besar karena mereka bergantung penuh pada sumber daya alam. Kita bisa melihat benang merah antara perubahan iklim, krisis air, kriminalitas, ancaman kesehatan, hingga kenaikan populasi, tidak lain dan tidak bukan akar permasalahannya adalah sistem produksi. Mengutip Commoner Barry dalam Magdoff Fred, jika lingkungan tercemar dan ekonomi sakit, virus yang menyebabkan keduanya akan ditemukan dalam sistem produksi. Dan di situlah kesembuhan mereka dapat ditemukan juga.

Dalam konteks neoliberal, pemodal memiliki kuasa besar termasuk dukungan pemerintah untuk memprivatisasi lahan yang selama ini menjadi ladang penghidupan warga. Pembangunan ini jelas bukan untuk warga biasa, tapi untuk kenyamanan estetika dan keuntungan warga kelas atas.

Jadi, ketika ada orang yang kesetanan mengatakan reklamasi untuk kebaikan kita semua. Sini kudatte’ jidatnya.

Kalau estetika alam dikuasai para pemodal, setidaknya tulisanku ini biar bisa estetik juga, saya tutup dengan mengutip Guruh Soekarno Putra.

Surya tenggelam ditelan kabut kelam
Senja nan muram dihati remuk redam
Jalan berliku dalam kehidupan
Dua remaja kehilangan
Penawaran rindu kasih pujaan
Menempuh cobaan

 

 

Referensi:

Magdoff, Fred. 2018. Lingkungan Hidup dan Kapitalisme. Jogjakarta: Marjin Kiri
Chrisye. 1978. “Kala Sang Surya Tenggelam” Oleh Guruh Soekarno Putra.