Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa BRT Berhenti Beroperasi dan Sebagainya






Sepanjang Januari hingga awal bulan Februari, saya kebetulan lumayan sering bepergian keliling Makassar. Kota yang juga mendefinisikan diriku namun semakin sulit kupahami, saya khawatir ia terasa asing seiring waktu.

Beberapa minggu keliling kota ke sana-sini untuk berbagai urusan, saya menyadari ada yang berbeda di jalanan kota yang semakin tua semakin liar. Tidak satupun BRT menampakkan knalpotnya, termasuk di pusat-pusat perbelanjaan kota. Apakah hanya saya atau memang BRT istirahat mengaspal?

Kira-kira kenapa BRT harus berhenti beroperasi sementara atau selamanya?


Sabtu, 13 Januari 2018

Belajar Merajut




Memasuki bulan Februari tahun 2017 lalu (yas, 11 bulan yang lalu) finally I’ve got a new berfaedah hobby─merajut. Tapi lebih tepat disebut mengait sih, alias crocheting. I didn’t know, why all in this earth I suddenly up to learn crochetting.

Saat  itu, karena tidak tahu belajar dari mana dan mulai dari mana, jadi kupikir lebih baik untuk masuk komunitas atau perkumpulan tertentu untuk belajar merajut dasar. Sebutlah pengetahuanku nol, yang kutahu hanya saya sangat ingin belajar merajut. Setelah bertanya kiri kanan, temanku menyarankan satu komunitas rajut di Makassar, tapi sayang persyaratannya adalah sudah bisa merajut, paling tidak merajut dasar, I’ve told you, saya belum tahu merajut sama sekali.

Karena sudah niat sekali, saya memutuskan untuk belajar otodidak. Nonton beberapa video crochet tutorial ‘for dummies’ di Youtube (ternyata ada banyak sekali!) dan googling apa saja yang perlu disiapkan untuk pemula seperti saya ini.
Ada berbagai peralatan rajut, tapi yang paling penting untuk saya miliki adalah: benang rajut dan hakpen! Selebihnya nanti saja mengikuti kebutuhan. Intinya saya harus mulai belajar mengait dulu.

Karena memang masih awam, beli alat dan bahan saja saya tidak tahu harus ke mana. Tempat yang pertama kutuju adalah.. Toko Harapan yang ada di pasar sentral. Kupikir beginian pasti adanya di toko jahit. Ternyata tidak semua sih haha. Soalnya setelah dari toko Harapan saya masih mau beli benang tapi malas antri (tahulah bagaimana antrian kasirnya di Harapan) jadi saya singgah ke beberapa toko jahit di sentral dan hasilnya nihil.


Saat masih di dalam toko Harapan, saya tidak sulit menemukan benang rajut. Tapi benang rajut yang tersedia hanya dua jenis, katun dan polister 100 gr. Setelah mengambil benang warna merah dan kuning, saya masih bingung gimana beli hakpennya. Kebetulan, pas saya masih berdiri-berdiri gaje, ada dua mbak-mbak yang ngobrol dan sebut-sebut hakpen, like the answer fall from the sky, saya pun mengekor di belakang mereka.

Tapi bingung juga sih pas ditanya mba tokonya saya mau ukuran berapa. Huuk, ternyata pakai ukuran segala. Hehe waktu itu saya belum tahu kalau di kemasan benang sudah ada keterangan ukuran hakpen/breien untuk benang tersebut.

Selasa, 26 Desember 2017

5 Desember (5)






Saya lagi-lagi tidak menjelaskan di balik tanggal 5 Desember ini, tapi saya ingin bercerita. Begini kira-kira. Tahun ini saya jatuh banyak kali. Jatuh memantul, hingga saya mendarat jauh di luar garis. Terjatuh di tempat yang asing membuat saya harus beradaptasi dulu, sebelum mulai kembali mendaki.

Salah satunya kehidupan di kampus. Ada-ada saja yang jadi masalah. Terus-terusan bertemu si masalah, saya berubah dari gadis sendu menawan (hue') menjadi gadis curigaan. Hal ini yang kemudian malah membuat saya membatasi diri.

Sebutlah di depanku ada sebuah genangan air. Daripada melangkah di atas genangan yang akan meninggalkan bekas basah di sepatu, saya memilih melompat dan tidak sadar jika tanah saat itu sangat licin. Akhirnya saya jatuh, dan baju saya basah dan kotor.
Rupanya saya sebegitu curiganya pada setiap genangan air.

Tapi jauh di dalam diriku, uwuwu
saya tahu 2017-ku tidak sejelek itu.

Saya melakukan banyak hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, membayangkan saja tidak. Kejutan-kejutan ternyata masih bekerja tahun ini.
Saya melakukan berbagai rencana perjalanan kota tahun ini, bersama beberapa orang yang kusukai.

Untuk pertama kalinya saya merajut, dan berkenalan dengan orang-orang baru karenanya.
Untuk pertama kalinya saya bisa berenang, hanya dalam satu hari.
Sisanya, saya sampai tidak bisa sebut satu persatu.

Jika tahun 2016 kemarin kujuluki 'tahun penuh lika-liku drama', maka 2017 ini kusebut saja “an upa’-upa’ year”.

Itu aja sih. 

Selamat menghabiskan sisa Desember!

26 Desember 2017, ditemani susu vanilla favorit.


Senin, 13 November 2017

Sudut yang Asik Untuk Nongkrong Sendiri di Kampus 2 UIN Alauddin Makassar




Sesupel-supelnya atau segaul-gaulnya seseorang , terkadang kita butuh yang namanya kesendirian. Menjauh dari hingar bingar massa. Dan ini manusiawi. Karena manusia selain makhluk sosial, juga merupakan makhluk individu.

Meskipun tidak lama, menyendiri memberikan apa yang tidak bisa didapatkan dari kerumunan: ketenangan. Sebagian orang menyendiri karena sedang jenuh atau banyak pikiran. Sebagian lain karena sedang mengerjakan sesuatu yang menyita fokus seperti membaca atau melukis. Sebagian lagi menyendiri karena orang itu dari sononya memang suka sendiri *eaaa

Kalau saya? Kalau saya sih selalu menyendiri setiap hari, terutama saat mandi, buang air, atau tidur. YAIYALAHHH.
Memangnya harus menyendiri supaya tenang? Bukankah berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang disayang kita bisa tenang, damai, dan bahagia?
Jadi ya sendiri belum tentu berarti menutup diri. Sendiri bisa saja karena waktunya untuk sendiri. Azek.

Ini, saya kasih daftar beberapa tempat untuk nongkrong tenang di kampus 2 UIN Alauddin Makassar, siapa tau kalian butuh. Kalau tidak butuh, close tab mi ki’ sekarang dende astaga gampangji toh.




1.     Perpustakaan

Perpustakaan memang tempat paling top saat harus menghabiskan waktu seorang diri. Karena tempatnya yang meski ramai pengunjung, tetap senyap. Kadang ada sih suara-suara kedengaran, terutama suara mahasiswa sedang diskusi sambil bisik-bisikan. Tapi masih bisa dimaafkan kok, kalau kalian tidak suka, move ke sudut lain lah, gak usah komplain kalau cuma begitu, perpus kan luas men. Jangan mi serius dudu.
Kelebihan utamanya, di perpus kita bisa baca buku atau sekadar numpang hotspot bagi para fakir kuota.



2.     Halte
Ada juga kok orang di halte cuma numpang duduk meski tidak sedang menunggu. Mau menunggu siapa? Menunggu abang datang meminang? Nanti ajalah, tunggu adek wisuda dulu hahaha
Kalau mau menyendiri di halte lebih syahdu, bisa sambil membaca buku, menggambar, atau sambil main game online (Hayday! Hayday!)


Sabtu, 23 September 2017

Semester 7





Tepat setahun lalu, ketika akan memasuki semester 5 setelah cuti akademik di semester  4, aku tidak henti-hentinya berharap setahun itu segera kulalui. Ingin cepat-cepat semester 7. Dan ketika kakiku sudah berdiri di titik ini, rasanya seperti berlari telanjang kaki. Aku merasakan setiap pijakan berbatu, berpasir, kemudian berlumpur, tapi mataku tidak banyak melihat.

Kurasa lebih baik jangan berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lamban. Nikmati setiap langkah. Lewati yang tidak perlu, amati yang baru.

Terakhir, ada satu hal yang benarbenar kuinginkan. Ditemani ceritamu hingga semester penghabisan.


Samata, 23 September 2017, setelah satu hujan panjang reda.

Senin, 03 Juli 2017

Takut



Malam tadi aku berfikir tentang ketakutan. Kupikir,  setiap orang punya ketakutannya masing-masing. 

Malam, berlaku untuk sebagian orang, adalah waktu mereka akan merasakan ketakutan-ketakutannya. 
Adik sepupuku takut kala malam akan melihat yang "lucu-lucu".
Ibunya,  takut anaknya ketakutan.
Mendengar cerita tante dan sepupuku, adikku ikut-ikutan takut keluar malam sejak itu. 

Tapi takut tidak mengenal waktu dan tempat.
Teman SMP-ku dulu, sebut saja W pernah histeris sambil berjingkat di atas kursi karena.. seekor laba-laba kecil. Iya,  laba-laba kecil yang dulu kalian ambil trus sengaja disodok-sodok di pergelangan tangan, biar digigit dan berubah jadi mutan keren seperti Spiderman. Takut itu seperti perasaan suka, ya, kan? relatif.

Ada juga temanku yang takut makan ikan lagi setelah tersedak tulang ikan. Bukan cuma ikan, pokoknya makanan seafood ia tak mau sentuh.

Beda dengan ketakutan akan materi, ketakutan yang sesungguhnya adalah takut yang muncul dijemput oleh prasangka. Misal rasa takut karena kecintaannya pada dirinya. Jenis ketakutan itu akan mendorongnya melindungi diri. Perlindungan diri semisal pencitraan.
Ah, aku jadi teringat postinganku yang sebelumnya perihal pencitraan si fulana :(
Aku tidak suka dengan muka duanya. Lantas sadar aku juga tidak suka ideku untuk menulisnya dalam postingan sebelumnya.

Tadi kubilang setiap orang punya ketakutannya masing-masing, ya, kan? 
Akhirnya aku tahu takutku. 

Aku takut tumbuh dewasa menjadi wanita tua menyebalkan. 

Selasa, 16 Mei 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realize how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.

Senin, 27 Maret 2017

Urban GiGs Mocca X Payung Teduh

RIP kamera HP



Sebenarnya aku tidak merencanakan sama sekali untuk keluar minggu malam kemarin sebelum adek aku ni bilang why nott kita nonton Mocca dan Payung Teduh. Kupikir ya juga sih, ini Mocca dan Payung Teduh! Jadilah kami bertiga, aku, ikha, dan ugha, pada jam itu juga bergegas melipir ke Taman Pakui Sayang (iya sayang~)

Oh iya, gigs ini gratis tis tis. Kalau aku ga datang kemarin tentu saja akan jadi penyesalan dan membebani pikiranku untuk bertahun-tahun kemudian lol. By the way, baru kali ini juga aku ke gigs atau event bertiga sama adik hehe. Trus pas di entrance petugas meminta identitas. Kupikir ya setidaknya “menyeleksi” pengunjung (meski dugaan itu salah saat di pertengahan sampai ending acara)

kayak anak nyasar


Aku dan Ikha duduk menggelesot di rerumputan dengan mengambil posisi dekat dengan panggung, Ugha lebih memilih menonton ke pinggir di mana banyak orang merokok. Sekitar pukul 19.00, Mocca perform terlebih dahulu dengan beberapa lagu yang wajib ada di riding playlist-ku. Rasanya mau menangis mendengar live Mocca, terutama saat aku berdadah-dadah ke panggung dan Arina Ephipania balas melambai dengan ramahnya. She is the friendliest performer in the world.

Tiba-tiba suasana cukup dingin dan windy, diikuti tetesan-tetesan kecil air. Ternyata turun hujan. Siapa sangka? Jujur aku ga nyangka tapi si Ikha bawa payung! Katanya dia bawa payung buat jaga-jaga. Akhirnya kita sepayung berdua~

Setelah beberapa lagu, Payung Teduh naik ke stage dan berkolaborasi dengan Mocca! Kerumunan bertambah padat. Tahu lah ya, Payung Teduh lagi hype sekali. Hujan semakin deras, dan penonton “punk” semakin memanas. Sampai meja kayu, payung booth terangkat-angkat massa. Aku dan adik-adikku memutuskan balik duluan meski Payung Teduh belum selesai perform T_T

Saat di parkiran aku sudah mendengar Bang Is menegur penonton dengan bahasa kotor lokal. Lagian aneh bgttt penontonnya, Payung Teduh jelas-jelas band Indie folk jazzy, bukan Hard Rock atau Metal. Mana banyak bocil lagi, padahal ini gigs 18+ dan mestinya butuh identitas seperti KTP di entrance. But overall, I was so happy as there were butterflies flying inside me ehe


Selasa, 28 Februari 2017

Picnic At The Bus Transmamminasata




Kelas 3 SD adalah terakhir kali aku merasakan naik bus Damri. Waktu itu aku menemani almarhumah nenek mengunjungi rumah salah seorang saudarinya di Kabupaten Gowa, tepatnya daerah Pallangga dekat stadion Kalegowa.

Posisi duduk andalan tentu saja di bagian belakang, dan aku senang sekali kalau kebagian tempat duduk paling belakang dan samping jendela. Karena posisi bangku belakang lebih tinggi dari bangku lainnya.

Selain itu, aku sebisa mungkin menghindari angin dari jendela yang terbuka dan ac kendaraan, soalnya aku ini tipis, mudah sekali masuk angin hahaha.

Serius. 

Penyakit sedikit-sedikit-masuk-angin ini begitu menyusahkan dan menganggu integritasku sebagai penikmat perjalanan jarak jauh
*cyah

Setelah bus tidak beroperasi lagi, angkot atau bekennya di sini disebut pete'-pete' ini kemudian menjadi andalan masyarakat untuk bepergian ke daerah sekitaran kota. 

Tapi nampaknya jumlah pete-pete' yang mengaspal di jalan raya begitu banyak dan kerap menjadi biang kemacetan saat mengambil, menurunkan, dan menunggu penumpang di bahu jalan, terutama di tempat publik yang sebenarnya di pinggir jalan tersebut sudah disesaki kendaraan yang parkir. 

Dan kemudian Makassar butuh diupgrade perihal transportasi publiknya. Faktanya, banyaknya angkot yang kerap menimbulkan macet dan ngetem di bahu jalan, sopir ugal-ugalan, dan kejahatan di jalan yang terjadi membuat warga (termasuk daku) mendambakan transportasi publik yang nyaman dan aman.

Ah sebelumnya maaf tulisan ini bukan bermaksud untuk sok tahu, menyinggung atau merendahkan pihak tertentu, bukan kok. Stay positive ya.

Oke kembali membicarakan bus, saat pertama mendengar berita comebacknya *tjieh bahasanya dengan wujud yang lebih oke, aku dengan semangat dan antusias yang sebenarnya tidak begitu perlu, sangat sangat ingin untuk naik bus ini. Tinggal cari waktu, juga travelmate dong. Emang mau kemana? Ya tidak ada tujuan mau kemana sih tapi di sini tujuanku kan naik bus keliling kota, terserah aku kan hahaha