Rabu, 29 Desember 2021

Akhirnya Berangkat ke Palu; Setelah Perjuangan Panjang





Semenjak kami menikah tahun 2020, saya dan suami belum pernah ke rumah suami di Palu. Ada saja halangan atau pertimbangan yang ujung-ujungnya menunda kunjungan kami ke sana.

I even burst into tears not because as a wife I have never been to my husband's house, but when I asked “masa sekalipun saya belum pernah menginjakkan kaki ke rumah suami” my husband's answer was like… “aku kan belum punya rumah yang”, sempat-sempatnya melucu astaga.

Entah berapa kali kami berencana dan gagal, nah finally di bulan ke 17 pernikahan, kami ada kesempatan untuk berkunjung ke kampung suami, Yeyy. sebenarnya penyebab utama rencana-rencana kemarin batal, karena baik saya maupun suami, tidak memiliki banyak waktu bebas dari pekerjaan, bahkan pada tanggal merah. Paling sih kami cuma punya dapat libur panjang saat lebaran dan tahun baru aja. Tak hanya ituuuu, lebih efisien apabila kami pulang pergi Makassar-Palu naik pesawat, dan itu *mahal*. Belum lagi antisipasi covid-19 seperti antigen.


***

Kami berencana ke Palu pada tanggal 24-28 Desember (hanya selama 5 hari), tapi yang di ACC dari kantor cuma 4 hari, yaitu tanggal 25-28 Desember. Yaudah deh kami ambil 4 hari itu aja, uang di rekening juga cuma support segitu hehe. 

Sebulan sebelumnya kami sudah memesan tiket via aplikasi tiket dot com. Karena semakin mendekati tanggal, harga tiket berangsur naik.


Hari H - Jumat, 24 Desember 2021


Pagi-pagi betul saya sudah bangun dan membuat sarapan, mengecek lagi barang yang sudah dipacking dari kemarin. Lalu saya dan suami berangkat ke Kimia Farma samping Aliyah Kursus di Jalan Urip Sumoharjo untuk antigen sebagai syarat penerbangan domestik saat ini. Alhamdulillah ga perlu nunggu lama, karena kami datang cepat. Sebetulnya saya mau sekali vaksin ke 2 dulu sebelum berangkat, buat antisipasi aja gitu, tapi beberapa jam lagi kami udah mau berangkat ke bandara.

antigen


Sudah pukul 10.00, saya minta suami mampir ke butik karena kebetulan lokasinya di jalan yang sama tempat kami antigen. Suami sudah mewanti-wanti untuk cepat-cepat karena pukul 12.00 nanti suami mau salat Jumat, kemudian kami mau makan siang dan istirahat (ya kami butuh istirahat karena masih bekerja malam sebelumnya dan kurang tidur), dan pukul 14.00 kami harus sudah berangkat ke bandara.


menghabiskan sekitar 45 menit tanpa membeli apa-apa

Pukul 14.00 kami on the way to the airport. Tiba di bandara langsung mau check in tiket pesawat. Tapi pas di counter kami diminta menunjukkan sertifikat vaksin, maka kami segera membuka aplikasi Peduli Lindungi. “Mba belum punya sertifikat vaksin kedua ya?” kujawab aja belum. Suami sih aman ya, sudah fully vaccinated. Saya diarahkan ke check counter di sisi lain pintu masuk.

Di counter tersebut ada beberapa petugas medis dilihat dari pakaiannya. Begitu tiba di sana saya memberitahu petugas medis bahwa saya belum vaksin kedua. Petugas menjawab kalau saya tidak bisa ikut terbang. Saya sempat menjelaskan kalau di waktu harusnya saya vaksin kedua (which is in the last two weeks), kondisi saya kurang enak badan dan dokter kandungan menyarankan menunda sampai saya merasa fit. Oh iya, saya dan suami sempat bertanya-tanya sejak kapan syarat penerbangan harus fully vaccinated?

Petugas menunjukkan poster yang terpajang di depan loket. “Aturannya berlaku mulai hari ini sampai tanggal 2 Januari ke depan ya, itu sudah disosialisasikan sebelumnya”, wow. Rasanya mau menangisi diri di depan loket, siapa yang tahu aturan tersebut berlaku mulai hari itu, di tanggal saya mau naik pesawat?


merenungi kekurang-pengetahuan kami yang menyebabkan 900++ ribu melayang


Setelah berkali-kali berusaha berbicara dengan pihak terkait, jawaban mereka sama. Aturan tersebut berlaku, dan saya hanya bisa terbang apabila sudah punya sertifikat vaksin kedua. Sayang seribu sayang, tiket pesawatku juga tidak bisa direfund, alasannya sudah less than last hour sisa waktu check in. Ah terserah lah.


Saya dan suami pun pasrah tidak mendapat solusi selain suami berangkat sendiri, dan saya pulang… untuk vaksin dulu (meski bingung ya kan mau cari vaksin di mana sore begini). Ya suami sebenarnya mau sekali menunda keberangkatan demi kami bisa bareng. Tapi cukup satu aja tiket yang HANGUS.


Suami mengantar saya ke depan memesan taksi sebelum dia pamit buat check in. Suami membawa semua barang kami sehingga besok saya berangkat hanya membawa diri dan sebuah slingbag. 20 menit kemudian, di saat saya sementara di jalan tol menuju pulang, suami mengabari kalau sudah last call buat penerbangannya, yang artinya pesawat menuju Palu sebentar lagi take off. Harusnya saya juga di sana, sambil menggandeng tangan suami :(

Pukul 15.56 saya sudah perjalanan pulang, saya mau menangis tapi ga bisa soalnya lebih pusing mau cari vaksin besok pagi di mana? Besok kan hari sabtu.

tidak ada palu hari ini


Saya berpikir (lebih ke ide licik) untuk menggunakan sertifikat vaksin punya kembaran saya, Ikha. Nama kami kan mirip, cuma beda huruf depan aja. Terus biar tiket buat besok dipesan atas nama Ikha juga. Kebetulan Ikha mampir ke rumah buat pinjam senter, katanya dia mau pergi camping di Lembah Ramma’.

Ikha menitipkan KTP-nya supaya saya bisa order tiket pesawat atas nama dia. Ketika tengah malam, saya baru tersadar satu hal. Saya cuma memegang KTP Ikha aja, nah sertifikat vaksin yang saya mau pakai malah lupa saya minta! Harusnya saya minta login akun Peduli Lindungi dia atau paling ngga saya punya screenshot kedua sertifikat vaksinnya. Saya telpon Ikha berkali-kali tapi sudah tidak bisa tersambung, padahal kami masih sempat whatsapp-an kurang dari sejam yang lalu. Hadeu.

Tidak ada escape plan, saya harus pergi cari vaksin besok pagi :(



Sabtu, 25 Desember 2021

Saya terlambat bangun hiksssss

Sudah pukul 9 pagi lewat, segera saya mandi dan berpakaian. Lalu buru-buru masak mie instan. Lidahku agak perih karena makan indomie kuah yang masih sangat panas. Tidak ada waktu nunggu kuahnya agak dingin hiks. Sambil makan saya coba googling lokasi puskesmas terdekat. Berdasarkan hasil pencarian dan juga info dari seorang teman, weekend ini sedang ada vaksin massal yang tersebar seantero Makassar. Ya katanya pemerintah sedang mendorong target masyarakat vaksin sebelum pergantian tahun. Semoga saya bisa vaksin hari ini, semoga semoga. Akhirnya pukul 09.48 saya baru bisa tiba di Puskesmas Kassi-Kassi di Jalan Emmy Saelan. Itu yang paling dekat lokasinya. Tiba di sana saya sempat kecewa karena yang jaga di puskesmas bilang tiket antrian sudah habis. Namun saya disarankan untuk ke lantai 2 (lokasi vaksin) untuk mengecek, siapa tau saya masih bisa dapat nomor antrian ‘nganggur’. Di lantai 2 ternyata penuh sama masyarakat yang antri. Dan rata-rata dari mereka punya koordinator yang megang (data seperti KK dan KTP) mereka. Oh saya mengerti. Jadi para koordinator ini tugasnya mencari calon vaksin pertama di kota Makassar dan mereka bakalan dapat fee per KTP. Saya menghampiri salah seorang koordinator dan bertanya apakah dia masih punya nomor antrian. Sebenarnya tidak ada untungnya bagi dia memasukkan saya ke antriannya, tapi karena dia baik mau menolong ibu hamil, dia memberi saya selembar nomor antrian 129. Baru panggilan ke 77, artinya masih ada kurleb 52 antrian sebelum giliran saya. Banyak juga ya :’)





Orang makin banyak yang datang buat vaksin, saya kepanasan dan lelah. Semoga saya ga pusing lalu mual harus mengantre begini saat hamil 6 bulan. 1 jam kemudian, pukul 11.00 antrian baru ke 82. Suami sudah mengirimkan saya tiket pesawat untuk keberangkatan pukul 16.00, tentu dengan harga yang sudah naik sedikit huhu. Nah 3 jam lagi saya sudah harus check in di bandara. memikirkannya perutku jadi mulas dan lapar. Tapi saya berusaha tidak panik, saya mengelus baby di perut, sambil telepati dia bisa nyaman dan tidak terganggu selama perjalananku ini. Saya sempat wa salah seorang teman, mengabari kondisi saya saat ini. Tidak lama dia menelpon, katanya sebaiknya saya pindah karena di Puskesmas Kassi-Kassi terlalu ramai. Dia bilang sudah menghubungi suaminya yang sedang jaga di Puskesmas Mangasa. Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini. 5 menit kemudian suaminya datang dan mengantarkan saya ke Puskesmas Mangasa. Ya benar saja di sana tidak terlalu ramai.


Pukul 11.13 saya lagi mengisi blanko (yang diisi calon vaksin mengenai riwayat kesehatan dll). Tapi sementara itu, petugas bertanya jenis vaksin apa yang saya dapatkan dosis pertama. Kujawab vaksin PFIZER. Petugasnya memberi tahu bahwa semua program vaksin massal di Puskesmas dan posko darurat vaksin saat ini hanya menyediakan vaksin Sinovac, AstraZeneca, Moderna, dan apapun selain Pfizer. Like no waaaay. Ke mana saya harus mencari vaksin Pfizer kalau gitu? Petugas tersebut menyarankan untuk ke Rumah Sakit.

Tujuan utama saya langsung ke RSIA Fatimah di Jalan Gunung Merapi. Karena vaksin dosis pertama Pfizer saya dapatkan di sana. Begitu tiba saya masih belum beruntung, jadwal vaksinasi hanya ada di hari Jumat, yang mana adalah KEMARIN. huffttttt. Harusnya dari Bandara kemarin saya langsung ke rumah sakit ini~ Tapi tidak ada keuntungan menyesalinya, semuanya sudah terjadi. Masih diantar oleh suami teman, saya menuju ke beberapa rumah sakit lainnya. Ke RS Stella Maris, tidak ada, ke RS Pelamonia, sampai klinik-klinik besar yang dilewati. Semuanya nihil.

Pos vaksin ada di mana-mana di pinggir jalan,
namun semua hanya menyediakan vaksin Sinovac…

Sudah pukul 12.08, Saya tidak tahu lagi mesti cari vaksin Pfizer ke mana. Jadi saya bilang ke suami teman saya itu untuk mengantar ke Klinik Lacasino jalan Adiyaksa. Saya berterima kasih ke teman saya dan suaminya sudah mau direpotkan 1 jam ini keliling Makassar mencari vaksin Pfizer :’)
Di Klinik Lacasino, saya berencana untuk test antigen sekalian istirahat. Entah sore ini saya bakalan bisa terbang ke Palu atau tidak. Saya terus berusaha tidak panik. Chat dari suami belum saya balas, tunggu urusan saya beres dulu. Suami sedari tadi pagi sedang di rumah keluarganya di Palu karena sedang ada keluarga yang meninggal.
Hasil antigen sudah saya kantongi, tapi saya masih duduk di depan klinik menikmati angin siang yang panas. Oh iya, seingatku dari berangkat pagi tadi saya belum minum lagi. Saya segera membeli air dan Lasegar. Huhu maaf ya baby, bisa jadi dari tadi kamu kehausan dan merasakan banyak goncangan sejak saya kesana-kemari.

Saya bingung, apakah sebaiknya saya segera refund tiket penerbangan saya sore ini, mungkin masih sempat? sekalian saya refund juga tiket pulang tanggal 28 Desember 2021 (ya guys saya bahkan sudah punya tiket pulang, merasa well-planned ternyata ga juga gara-gara saya belum vaksin dosis 2). Saya sudah pasrah kalau belum bisa berangkat ke Palu tahun ini. Biar saya tunggu suami nanti pulang. Saya berencana menelpon suami menyampaikan niat pembatalan tiket. Tapi sebelum itu saya relaksasi dulu sambil scroll instagram. Sudah pukul 12.43. Saya lihat ada DM masuk dari seorang teman. Dia mengirimkan postingan informasi vaksin Pfizer di Gowa. Ya.. pfizer.. hari ini.





Saya memperhatikan lekat-lekat flyer tersebut. lokasinya ada di berbagai titik kelurahan di Gowa. Saya menelpon Ibu dan adik saya yang sedang berada rumah. Rumah orangtua saya tidak jauh kok dari kantor lurah. Tapi sepertinya orang rumah sedang sibuk. Saya juga menghubungi teman saya (yang beberapa saat lalu dia dan suaminya membantu saya mencari vaksin di Makassar) karena dia kebetulan tinggal di dekat kelurahan Bonto Bontoa. Dia membantu konfirmasi kesediaan vaksin Pfizer dosis kedua. Tak lama dia menghubungi saya dan menyampaikan berita bahagia itu.
Alhamdulillah. Di saat saya sudah mau menyerah, Allah membukakan jalan melalui teman-teman saya. Dari Klinik Lacasino, saya naik gocar ke rumah, untuk singgah salat dan memperbaiki diri. Lalu pukul 13.08 memesan gojek menuju Kantor Lurah Bonto Bontoa di Gowa. Pukul 13.31 saya tiba di lokasi vaksin. Begitu masuk, tidak ada antrian, para petugas sedang lowong, ada juga yang sedang istirahat makan. Saya duduk mengisi blanko, dan tanpa babibu ke petugas medis yang bertugas untuk memberi suntikan vaksin. Saya sangat terharu sampai tidak merasakan suntikan. Dari beberapa jam yang lalu saya ke mana-mana, akhirnya bisa vaksin hari ini. Rasa-rasanya mau sujud syukur ga sih :’)
Pukul 13.46, teman saya mengantarkan saya ke depan Masjid Syech Yusuf. Dia menemani saya menunggu gocar yang saya pesan buat ke bandara. Saya sudah bau matahari karena banyakan naik motor tadi, tapi itu bukan masalah sama sekali. Saya bakal nyusul suami ke Palu uhuyy.

finallyy




Pukul 14.29, saya sudah tiba bandara, langsung ke Check In Counter. Begitu masuk, saya segera ke mushola dan menghubungi suami. Ketika duduk, baru terasa betisku meletup-letup. Baby dalam perut sesekali nendang saat istirahat begini. Saat saya sibuk dari tadi, baby di kandungan lumayan anteng, makasih ya baby sudah mau membantu ❤️


Pukul 15.52 udah masuk pesawat ~~~~
Tiba di Bandara Mutiara SIS Al Jufri Airport, saya dijemput Suami dan Adik Ipar. Suami membelikan nasi goreng karena sedari pagi sampai sore tiba di Palu saya hanya makan Indomie kaldu. Kasian baby :’( Sampai di rumah Mertua, saya mandi dan salat maghrib. Saya juga menghabiskan nasi goreng tadi, lalu siap-siap untuk berkunjung ke rumah adik almarhumah ibu Suami di Biromaru. Sekitar pukul 21.00 kami pun pulang. 12 jam terakhir ini sangat hectic! Tapi rasanya tidak lelah karena sudah ketemu Suami lagi :’)