Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2024

Buku Anak: Kerudung Ibuku

Kerudung Ibuku

Penulis: Jenny Molendyk Divleli
Ilustrator: Merve Ozcan
Penerbit: M&C Gramedia Pustaka Utama
Hlm: SC 32 hlm

Buku ini berkisah tentang seorang anak perempuan yang berimajinasi dengan kerudung ibunya. Kerudung Ibu sangat indah seperti kebun bunga, menemaninya bermain rumah-rumahan, dapat menjadi ayunan, memberinya kehangatan seperti pelukan Ibu dan siap menyeka air matanya.

"Kerudung Ibu sangaaat harum.. seperti perpaduan wangi kue, sampo, dan sabun milik ibu."

Jumat, 16 Februari 2024

Buku: Lebih Senyap dari Bisikan



Setelah membaca Menua dengan Gembira, aku pun penasaran dengan buku-buku lain yang ditulis Andina Dwifatma. Jadi aku memutuskan memesan buku "Semusim dan Semusim Lagi" yang lumayan sering aku lihat di postingan orang di Instagram

Tiba-tiba di sabtu malam kemarin aku ke mal bersama Suami dan Zen. Mereka bermain di playground sementara aku melipir ke Gramedia, dan secara kebetulan bertemu buku Andina Dwifatma yang berjudul "Lebih Senyap dari Bisikan" dengan sisa stok 1 eksemplar. Sebenarnya aku sudah berusaha menahan diri. Aku berharap menyelesaikan buku yang sudah dibeli duluan dan belum dibaca sebelum kembali membeli buku baru. Tapi itulah yang terjadi. Aku pulang membawa Lebih Senyap Dari Bisikan. Sampai di rumah, segel plastik buku kulepas dan mulai bersender membaca cerita rumah tangga Amara dan Baron.


Menjadi istri dan Ibu tidak pernah mudah


Buku Lebih Senyap dari Bisikan adalah novel yang bercerita tentang kehidupan pasangan, yang dimulai dari bangku kuliah. Sebenarnya kisah pacaran mereka hanya secuil, tapi menurutku ini lumayan penting untuk memberikan pembaca gambaran karakter Amara dan Baron dalam hubungan mereka.

Senin, 25 September 2023

Buku: Anatomi Perasaan Ibu



Anatomi Perasaan Ibu
Penulis @sophiamega
149hlm

Sebab pengalaman ketubuhan perempuan tidak hanya berisi kebahagiaan. Seolah kehidupan Ibu yang terlihat "jauh" dari kata kacau balau.


Saya membeli buku ini untuk hadiah ulang tahunku yang pertama kali sebagai seorang Ibu. Setelah membacanya, saya lebih merekomendasikan buku ini dibaca setelah melewati fase newborn. Karena cerita blak-blakan dan jujur sepertinya bisa men-trigger kepanikan dan tekanan saat itu juga. Bukan hanya itu, membaca buku ini setelah melewati fase "kritis" menjadi Ibu, seperti memberi pelukan dan segelas coklat hangat.

Banyak sekali uneg-uneg mba Sophia Mega curahkan di buku Anatomi Perasaan Ibu. Bahwa benar menjadi ibu tidak hanya berisi kebahagiaan, seperti yang dilihat dari postingan para Ibu baru di medsos.

Aslinya rumit. Ada berbagai gejolak emosi, rasa kesepian, takut, khawatir, marah, sampai mau gila!

Di buku ini, Sophia Mega berbagi pengalaman emosi dalam 4 bagian tulisan. Bagian 1, pernikahan. Bagian 2, hamil. Bagian 3, melahirkan. Dan bagian 4, menjadi Ibu. Membaca semua bagian membuat agak merinding saking relate-nya (dikit-dikit "HAHH kok benerr?").

Selasa, 08 Maret 2022

Hari Perempuan Sedunia dan Dukungan untuk Korban Kekerasan Seksual


 

10 hari yang lalu, Seruan Perempuan Anging Mammiri dan LBH Makassar merilis Buku Saku Panduan Mendukung Korban Kekerasan Seksual. Kalian bisa mengunduhnya di kalimat judul yang juga tautan barusan.

Kekerasan dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Termasuk keluarga dan teman kita sendiri. Dalam hal ini, perempuan dan anak menjadi kelompok yang paling rentan. Bukan berarti laki-laki tidak ada yang mengalaminya. Namun, dalam sejarah yang panjang, perempuan sedari lahir ke dunia sudah dibebani status ‘kelas kedua’, dari lingkungan keluarga, keluar ke lingkungan masyarakat.

Karena bisa saja terjadi di lingkungan kita, sehingga kita perlu membekali diri. Ketika kekerasan terjadi, sering kali kita bingung bagaimana cara menghadapinya.

Rabu, 23 Juni 2021

Menyusun Buku Saku; Panduan Mendukung Korban Kekerasan Seksual




Di akhir tahun 2020 kemarin, seorang teman, Rara mengajak bekerja dalam produksi buku saku yang sedang digarap oleh Seruan Perempuan Anging Mammiri (SP Anging Mammiri), yang juga merupakan bagian dari LBH Makassar. Di mana teman-teman di Seruan Perempuan Anging Mammiri berupaya mengedukasi dan mengadvokasi, memberi bantuan hukum penyintas Kekerasan Seksual dan peran pendampingan penyintas dalam pemulihannya. Salah satunya melalui perilisan buku saku Panduan Mendukung Korban Kekerasan Seksual ini. Saya senang dihubungi oleh Rara, karena berapa lama sebelumnya saya sedang belajar mengenai topik spesifik kekerasan berbasis gender. Sebagai mahasiswi, saya bergaul dan mendapati banyak kekerasan yang sangking lumrahnya mungkin kita tidak ‘ngeh kalau itu merupakan bagian dari kekerasan. Cukup banyak lingkungan masyarakat, anak muda khususnya yang masih awam dengan bentuk-bentuk kekerasan seksual di sekitarnya.

Rabu, 26 Mei 2021

Merancang Tata Letak dan Ilustrasi Buku Esai Bangku Depan

 




Sudah sejak Januari yang lalu saya dihubungi seorang senior dari kampus, Bang Jul, untuk mengerjakan buku esai dari penerbitan indie, Liyan Pustaka, yang sedang beliau garap. Tapi baru benar-benar bisa saya selesaikan 3 bulan kemudian. Buku kumpulan esai ini selain anak pertama Liyan Pustaka, juga buku pertama si penulis, Askar Nur. Buku ini memuat esai yang sebagian telah dimuat media kampus, media lokal dan media nasional sepanjang masa produktif kak Askar.


But tbh, sudah agak lama rasanya sejak terakhir saya mengerjakan layouting. Itupun saya melayout halaman koran, yang tentu saja berbeda dengan melayout sebuah buku. Masih banyak bingungnya. Terlebih saya sedang tidak dalam kondisi fisik yang nyaman.

Beruntung, ‘client’ saya sangat terbuka dan tidak mengekang saya mengenai deadline. Tentu saja Bang Jul beberapa kali menghubungi saya untuk memantau progress. Saya sedikit sungkan jika dalam berapa waktu istirahat tidak ada kemajuan signifikan. Tapi selama itu saya akan terus memberi kabar, hehe karena saya tahu rasanya digantung tidak enak, lebih enak diajak makan ga sih. Lagian saya kan sudah dipercayakan, jadi saya harus percaya diri (pdhl minder bgt aww) :’)





Untuk tulisan-tulisan kak Askar, kebanyakan sudah saya baca semua. Saya cukup update dengan karya teman-teman di lingkungan kampus. Meski ada juga beberapa tulisan  ̶yang dari dulu, bagi saya tidak sesuai dengan nilai pemahaman yang kuiyakan, namun kupikir perbedaan pandangan itu tidak semata untuk diperdebatkan saja. Ia juga menjadi bahan refleksi dan kita bisa belajar memancing pikiran kritis dari sana.


Senin, 22 April 2019

Giveaway Marjin Kiri: Setan Van Oyot

dok. pribadi

Sebagai orang yang jaraaaaang sekali menang undian giveaway, saya sangat sangat senang ketika nama saya diumumkan di Instagram Marjin Kiri. Gila. Akhirnya bisa ngerasain kebahagiaan ini, terima kasih Ya Allah. Mana hadiahnya buku terbaru terbitan Marjin Kiri. Judulnya Setan Van Oyot.


Waktu itu tuh saya lagi kosbang (kosong banget) dan cuma scroll ig aja. Nah pas liat storynya Marjin Kiri Publishing, ada quiz seputar buku yang akan rilis waktu itu. Pertanyaannya kira-kira begini: Penulis Setan Van Oyot mendapat inspirasi dari pelesetan nama tsb dari salah satu politikus kontroversial di Indonesia. Siapakah dia?
Nah saya eksplor lidah saya mengucap berulang-ulang Setan van Oyot, ga lama lidah saya terpeleset dan akhirnya dapat jawaban: Sety* Nov*nto??? 

Rabu, 09 Januari 2019

Tempat Terbaik di Dunia

 



Penulis: Roanne van Voorst

diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Martha Dwi Susilowati

Penerbit : CV Marjin Kiri

ISBN: 978-979-1260-79-4

tebal: vi + 192 hlm; 14 x 20,3 cm

Cetakan pertama, Juli 2018



Roanne, seorang peneliti dari Belanda menuliskan ceritanya selama hidup di tengah kehidupan marjinal bantaran kali ibukota. Karena Roanne melakukan penelitian dengan metode partisipatif, sehingga dia kemudian tinggal di sana dan berbaur selama setahun.


Di pembuka buku, Roanne mengungkap bahwa tulisannya berusaha untuk tidak terlalu sentimental dalam menggambarkan kampung bantaran kali, kampung yang dia akui sebagai tempat terbaik di dunia. Roanne bercerita apa yang dia alami termasuk berkenalan dengan teman-teman baru —yang meski hanya dalam waktu setahun, tapi mereka berbagi banyak cerita— cukup untuk menghadirkan ikatan emosional di antara mereka. Tokoh di buku ini menggunakan nama-nama samaran untuk menjaga identitas asli, hal ini juga untuk membuat Roanne merasa leluasa menceritakan kondisi sosial politik yang sedikit jumawa perihal bantaran kali.


Orang-orang di bantaran kali melakukan banyak hal untuk menghidupi keluarga dan bertahan hidup dari banjir yang bisa 8-10x lebih sering merendam pemukiman tersebut daripada daerah lainnya di Jakarta.

Rabu, 10 Oktober 2018

Buku & Film: Aruna dan Lidahnya



Baru kali ini saya ke bioskop tapi penontonnya se-sepi ini. Hanya ada 5 orang di dalam studio, termasuk saya dan (sebut saja dia) Boy. Mungkin karena overshadowed dari film The Nun atau Something in Between? Ya memandangi Jefri Nichol menggoda, tapi Nicholas Saputra kan sayang banget dilewatkan~

Kebetulan sutradaranya Edwin, yang saat ini jadi favoritnya (sebut saja dia) Boy setelah dia nonton film Posesif. Dan film ini dikemas menarik oleh Edwin, menariknya film ini memakai teknik breaking-the-fourth-wall, di mana protagonis seolah berbicara langsung ke kamera/penonton. Seperti yang bisa dijumpai di film-film Warkop DKI. Teknik ini agak tricky karena bisa jadi melempem kalau tidak dieksekusi dengan baik. Tapi dalam Aruna dan Lidahnya, didukung Dian Sastro dan para cast yang lihai storytelling, teknik ini menjadi trik sulap yang membuat kita semua bisa merasakan kelezatan yang dirasakan karakternya. 



Saya sendiri menonton filmnya sebelum menyelesaikan novelnya Laksmi Pamuntjak. Karena novelnya terbilang kaya rasa (aslinya memang terasa padat), banyak terminologi buatan Laksmi dalam buku ini, sehingga saya mesti membaca dengan khidmat. Sayangnya saya lagi zibuk hehe (sibuk mulu).

Secara garis besar, film dan novel Aruna & Lidahnya bisa dibilang multi-tema, tapi fokus utamanya adalah kuliner (sepertinya). Ya sepertinya tema utamanya kuliner deh soalnya pekerjaan Aruna selaku ahli wabah di sini kesannya hanya tempelan, kita lebih digiring untuk menemani Aruna menikmati makanan.

Justru yang ‘kuliner banget’ dari film ini adalah pekerjaan Bono, sahabat Aruna yang merupakan chef dan ambisi Aruna mencari Nasi Goreng si mbok. Padahal penulis sudah membawa tema yang unik di belantika novel kiwari, seperti ahli wabah, flu unggas, plus segala institusi fiksi seperti Kementerian Mabura (Kemakmuran dan Kebugaran Rakyat). Meskipun begitu, kuliner dan romansa yang dihadirkan sebagai bahan baku dari cerita Aruna & Lidahnya, tetap tersaji menarik.

 

Menurut hemat saya, tidak terjadi konflik yang begitu berarti, bahkan saya pengen nanya konfliknya di bagian mana, tau-tau udah ‘resolusi’. Jujur ada sedikit kebimbangan menentukan konflik ceritanya, yang menjadi sorotan utama yang mana? Apakah kejanggalan kasus flu unggas dan birokrasi yang korup, ataukah keresahan hati Aruna akan perilaku Farish yang mendadak caper, atau nasi goreng si mbok. Mungkin akan lebih baik jika salah satu di antaranya difokuskan dan dikembangkan lagi. Meskipun konfliknya tidak terlalu terasa, overall film garapan Edwin dari cerita karya Laksmi Pamuntjak sukses memanjakan mata dan kelaparan saya, sekian.


Selasa, 16 Mei 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realize how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.

Selasa, 31 Januari 2017

ELE 2017 dan Keriuhan yang Belum Reda



Aurelia-aurita-blog



Sampai berapa lama suatu peristiwa mampu bertahan menjadi bahan obrolan hangat yang seakan tidak ada habisnya untuk dibahas? Satu minggu? Dua Minggu? Entahlah. Hari ini adalah minggu ketiga pasca ELE dan sebelum keriuhannya benar-benar reda dan akhirnya menjadi kenangan pembuka tahun 2017, aku akan menuliskannya sedikit. Ya, sedikit dari banyak sekali cerita yang muncul berkat ELE.

Jadi tahun ini adalah giliran angkatanku untuk menjadi pelaksana Elexhibition. Elexhibition atau biasa juga kami sebut ELE merupakan singkatan dari English Literature Exhibition.

Meski sudah lewat dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11-12 Januari tapi masih banyak rasa yang tertinggal di perhelatan tahunan anak jurusan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar ini, uhuyy. Oke mungkin bagi beberapa orang yang terlibat, iya seperti itulah.




Tema tahun ini adalah Islamorphosa. Setidaknya sampai dua minggu menjelang hari H. Jadi, saat beberapa bulan sebelumnya kami mengadakan rapat angkatan untuk menentukan tema kegiatan, ada beberapa usulan yang masuk, termasuk aku yang saat itu mengusulkan tema Islamorphosa ini. Sedihnya, banyak yang bingung dengan tema usulanku ini, bahkan saat voting, hanya 4 orang (doang) yang memberikan suara. Bahkan aku mendengar komentar semacam, "bisa gak usulnya jangan yang aneh-aneh begitu?"

And theeeen you know what? Di bulan terakhir persiapan ELE temanya diganti, dan Islamorphosa didapuk jadi tema tahun ini, huh apaan.





ELE bukan hanya pementasan yang wajib kami lakukan atas nama tugas akhir semester lima saja. ELE lebih dari itu. Meski pentasnya (hanya) 2 hari saja di bulan Januari, tapi persiapannya sendiri sudah sejak awal semester lima. Jadi kira-kira ada tiga bulan waktu kami untuk banting tulang mempersiapkan diri.

Panitia ELE terdiri dari perwakilan setiap kelas, sisanya pemain. Entah itu panitia atau bukan, masing-masing berjuang demi kesuksesan acara. 

Kamis, 17 November 2016

Buku: Mystery of Yellow Room


Satu dari tiga novel misteri ruang tertutup terbaik sepanjang masa
(Edward D. Hoch, 1981)

Mystery of Yellow Room
Le mystere de la Chambre Jaune
Terbit pertama kali di Prancis tahun 1908
oleh penerbit Editions Pierre Lafitte
Penulis: Gaston Leroux
Penyunting: Zulfa Simatur; Penerjemah: Preti Prabowo
Visimedia 2013

Joseph Rouletabille, wartawan muda yang juga detektif amatir bersaing dengan Frederick Larsan, seorang detektif profesional dalam mengungkap sebuah misteri kejahatan yang terjadi di sebuah ruangan tertutup, “kamar kuning”, kamar seorang perempuan jelita. Perempuan itu, Mademoiselle Stangerson –putri tunggal Profesor Stangerson, seorang ilmuwan terkenal– nyaris terbunuh di kamar itu. Aparat penegak hukum dibuat kalang-kabut, surat kabar memberitakannya dengan sangat heboh. Prancis pun gempar!

Sebenarnya aku sangat menikmati cerita misteri seperti novel ini. Tapi entah kenapa pas lagi di toko buku, novel-novel misteri jarang terjamah oleh tanganku untuk kemudian dibawa pulang. Novel ini pun sebenarnya aku temukan di suatu obral buku di TB Graha Media M’Tos, yup, buku ini belinya bersamaan dengan Les Miserables 2: Cosette (Lihat reviewnya di sini).

Aku tertarik begitu membaca sinopsisnya di cover belakang. Misteri pembunuhan di ruang tertutup. Nah kebetulan sehari sebelumnya aku lagi gemar-gemarnya nonton anime Detective Conan, daaan episode yang terakhir aku nonton juga mengenai kasus pembunuhan di ruang tertutup.

Selasa, 08 November 2016

Perempuan Patah Hati yang Kemarin Kehilangan Bukunya di Leang-leang




Jadi beberapa minggu lalu aku jalan-jalan ke Kabupaten Maros tepatnya di salah satu taman prasejarahnya, Leang-leang. Ke sananya berempat sama Riri, Mute, dan Arjum. Gak dalam rangka apa-apa sih, cuma mau ke sana aja, refreshing. Sebenarnya ini kali kedua aku ke sana, Februari kemarin kan sempat ke sini juga. Cuma DUA KALI mana bisa puas keliling Leang-leang.

Malam sebelumnya aku begadang bikin orderan scrapframe, itupun masih lanjut pagi harinya, trus mandi dan langsung cus ke Leang-leang. Makanya pas sampai di sana aku mager, pengennya baring terus.

Apalagi bertepatan hari Minggu, banyak anak-anak sekolahan study tour ke sini kan, duh, bikin gak leluasa. Jadi, sembari menunggu pengunjung sepi, kami menepi di taman yang terletak di seberang sungai, yang sering ke sana pasti tahu tempatnya.

Dengan Ummah

Sampai sore aku tidak beranjak dari sana, menghindari teriknya matahari. Selain itu, mana sanggup move coba kalau dibuai angin sepoi-sepoi begitu. Jadi, aku jauh-jauh dibawa ke Leang-leang cuma nyender di bawah pohon sambil baca bukunya Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Trus gimana dong? Soalnya udah posisi wuenak banget. Hahaha.


Malah di bawah pohon itu aku berhasil menyelesaikan buku tersebut. Akhirnya punya situasi yang kondusif untuk membaca novel tanpa merasa dibebani pikiran tentang tugas-tugas kampus, ehh, tugas? Apa itu tugas? Kata kerja kah? Kata benda? Uh.

Novel PPHKMCMM (maaf disingkat, aga cape ngetiknya mz/mb *&%@$#$@!) merupakan kumpulan cerpen, yang andai ini kedai makanan, aku dengan senang hati berkunjung ke sana setiap waktu, memesan semua menunya, dan menikmati setiap kunyahanku. Eh. ANALOGI MACAM APA INI?

Kamis, 03 November 2016

Norwegian Wood & Remaja Kepala Dua




Norwegian Wood

Haruki Murakami
Original title: Noruwei no Mori
Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah: Jonjon Johana; Penyunting: Yul Hamiyati
Cetakan keenam, Agustus 2015

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.



Dulu sekali, sebelum muncul niatan untuk membaca buku terjemahan ini, aku hanya menduga-duga. Dari judulnya, Norwegian Wood, aku mengira isinya bercerita tentang hidup seorang tukang kayu atau desainer interior atau apalah. Apeu.

Hingga suatu hari aku membaca sinopsisnya di Goodreads dan beberapa blog buku, barulah disitu aku tahu, gak ada tuh tukang kayu-tukang kayu-an sama sekali. Sebenarnya aku mauuuu sekali baca bukunya Murakami yang lain, Sputnik Sweetheart dan IQ84 (absolutely ya) tapi kebetulan stoknya lagi kosong. Ada sih jilid 2 dan 3, tapi yang bener aja dong ya. 

Buku ini pun aku gak beli (ye yeeee), tapi hadiah pas ultah dari seseorang (sebut jangan, ya?). Dan Norwegian Wood menjadi buku Murakami pertamaku.

Begitu selesai membaca buku ini, aku cek reviewnya di Goodreads, ternyata komentarnya seru, hampir seperti instagramnya artis tanah air ajee, ada pro ada kontra. Yang frontal juga banyaakk. Begini ya, setiap orang punya perspektif punya sense yang berbeda, dan tentu aja, konsumsi buku yang berbeda. Misalkan seorang comic lover, dan seorang buku-filosofis freak, ketika diberikan satu novel yang sama, hasilnya tentu saja beda bu, tapi bukan berarti tidak bisa mendekati.

Ini aku bicara apa ya? Sorry tadi sore abis ujan-ujanan (trus?) jadi gitu deh wqwq




Kisah dibuka tokoh utama, yang berada dalam pesawat Boeing 747 dan seketika ingatannya terlempar ke masa remajanya hampir 20 tahun yang lalu. Ketika Watanabe Toru duduk di bangku kuliah.

Flashback Karena Dengar Lagu

Sejak jaman dahulu kala, aku percaya mendengar lagu tertentu bisa membangkitkan memori tertentu. Misal dengar lagunya Sorry Sorry-nya Suju, aku tiba-tiba merasa jadi anak kelas 8 SMP lagi, yang pusingnya paling cuma karena salah roster mapel (Ekha banget yaampun beb). Sekarang? jangan ditanya plz.

Bukan lagu aja sih, barang-barang atau kegiatan tertentu juga bisa memancing kita untuk flashback. Iya kan? Bahkan ada kejadian orang yang menyimpan struk belanjanya pas ke luar negeri untuk pertama kalinya, ada yang simpan batu dari pulau favoritnya. Biar apa? Tau sendiri lah.

Senin, 31 Oktober 2016

Mata yang Enak Dipandang





 Mata yang Enak Dipandang 
Ahmad Tohari
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama 2013

“Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997.
Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.
Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.”



Seperti yang sudah disebutkan, buku ini berisi 15 cerpen Ahmad Tohari yang pernah dimuat di media cetak. Dan judul buku ini, Mata yang Enak Dipandang diambil dari salah satu cerpen di dalamnya.

Daftar cerpen pengisi:
Mata yang Enak Dipandang (Hal. 7)
Bila Jebris Ada di Rumah Kami (Hal. 19)
Penipu yang Keempat (Hal. 29)
Daruan (Hal. 39)
 
Warung Penajem (Hal. 51)
Paman Doblo Merobek Layang-layang (Hal. 63)
Kang Sarpin Minta Dikebiri (Hal. 75)
Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan (Hal. 87)
Sayur Bleketupuk (Hal. 97)
Rusmi Ingin Pulang (Hal. 107)
Dawir, Turah, dan Totol (Hal. 117)
Harta Gantungan (Hal. 131)
Pemandangan Perut (Hal. 143)
Salam dari Penyangga Langit (Hal. 155)
Bulan Kuning Sudah Tenggelam (Hal. 165)



Mata yang Enak Dipandang

“Ah, betul! Itu dia. Dari tadi aku mau bilang begitu. Tarsa, kamu betul. Mata orang yang suka memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul, mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.” –hal.14

Tarsa ingat, memang sulit mencari orang yang matanya enak dipandang dalam kereta kelas satu. Melalui jendela ia sering melihat berpasang-pasang mata di balik kaca tebal itu; mata yang dingin seperti mata bambu, mata yang menyesal karena telah tertumbuk pada sosok seorang kere picek dan penuntunnya, mata yang bagi Tarsa membawa kesan dari dunia yang amat jauh. –hal.15


Aku kemudian penasaran setelah mendengar pendapat pengemis tunanetra, Mirta dan penuntunnya, Tarsa. Bagi pengemis yang tiap harinya bergumul di antara ribuan pasang mata manusia –makhluk sesamanya– ada perbedaan yang mereka temukan dalam cara mereka memandang. Manusia sama yang selalu melihat berbeda dan juga selalu ingin terlihat berbeda padahal sama saja.

Lalu aku penasaran lagi. Bagaimana aku terhadap orang lain? Apa aku sudah terlihat menyenangkan? Atau paling tidak, apa ada yang merasa mataku layak untuk dipandang?


Senin, 24 Oktober 2016

Terima Kasih Lelah - Fivefoot Story








Puisi oleh Bebhen Fivefoot

Terima Kasih Lelah

Aku bukan burung yang pandai terbang dengan sayap
Aku bukan bayangan yang apabila gelap akan menghilang
Apa yang menghalang hati ini berkembang
Atau mungkin karena kamu lebih betah dengannya?

Bukan lelah berharap, Bukan menyesali doa yang telah terucap
Tapi hanya kau yang berhasil mengindahkan hati ini
Kau yang menanam rasa hingga matahari terbenam
Dimata, kita saling bertatapan hingga bayangan itu hilang

Aku menikmati penyesalan ini tapi bukan salahku
Ingat bukan salahku
Kau yang berangkat dengan metafora sesak
Dan mengucapkan selamat tinggal disaat bingkai
Cerita ini menjadi lelap

Malam ini kubelajar melihat bintang
Aku sadar ini sebuah tantangan
Semoga bulan memberiku titik terang hingga aku tenang

Mataku dan matamu akan selalu melihat dunia,
Dunia tetap menyatukan kita walau hanya menampung cerita
Tanya dan jawab tanpa jawaban sekali lagi

Terimakasih lelah



Minggu, 23 Oktober 2016

Les Miserables 2: Cosette





Sayangnya aku belum memiliki bagian pertama dari novel ini (Les Miserables 1: Fantine). Buku ini pun kudapatkan secara kebetulan di TB Graha Media M’Tos pertengahan Agustus.


Tapi karena sebelumnya pernah menonton filmnya, dan saking sukanya aku nonton berkali-kali, maka dengan pedenya aku baca saja buku keduanya meski belum membaca yang pertama.

Buku kedua ini yang masih bersetting negara Prancis pertengahan abad 17, melanjutkan kisah di buku pertama dimana Jean Valjean berencana menemukan seorang gadis kecil bernama Cosette yang merupakan anak dari mendiang Fantine –wanita yang sekarat di jalanan setelah kehilangan pekerjaannya.

Jadi, aku sudah punya gambaran bahwa di buku pertama ini berkisah dari keluarnya Jean Valjean dari penjara yang benar-benar telah merenggut semua kebahagiaannya. Valjean dihukum pada tahun 1796 untuk kasus pencurian. Namun keluar dari penjara bukan berarti kebabasan baginya. Ia tetaplah seorang tahanan yang hidupnya di bawah pengawasan polisi kota. Karena keinginannya untuk hidup layak, Valjean akhirnya kabur ke kota kecil M. Sur M., mengubah identitasnya dan memulai kehidupan baru yang didambanya. 

August to October Read-list




Sudah pertengahan bulan Oktober, gak lama lagi November, trus Desember. Sekarang-sekarang saja sudah sibuk gila, gak sanggup bayangin besok-besoknya. Terutama di semester 5 ini ada pementasan drama, puisi, dan film. Belum orderan crafting yang datang semena-mena. Kadang, aku dengan egoisnya mangkir, bolos dari kelas astaghfirullah.

Tapi mengeluh bisa  bantu apa? Malah menambah beban yang sudah berat sedemikian rupa. Kamu harus strong Ekha!

Tapi bagus sih kalau sibuk. Kemarin pas lagi kosong aku malah bingung mau ngapain hahaha. Paling membaca. Kebanyakan buku pelajaran dan novel lama. Belum bisa foya-foya di toko buku, pengeluaran semester ini kan ada banyak sekalee. Gile aje belanja belinji novel tapi tidak memperhatikan buku pelajaran (yang seringkali sekadar dibeli, belum tentu dibaca sampe tamat) hahaha.

Jadi selama Agustus sampai Oktober aku hanya membeli 7 buku, dapat 3 buku pemberian, 1 e-book plus 5 buku pinjam dari teman hehehe. Tapi daftar buku yang ingin kubaca masih banyak banyak banyak sekali. Pengen cepat-cepat selesai semester 5 aja. Huhu. Atau kamu mau berbaik hati kirimkan aku buku? Ah aku gak mungkin menolak.

Agustus
  1. Victor Hugo – Les Miserables 2: Cosette 
  2. Gaston Leroux – Mystery of Yellow Room 
  3. Idrus – Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (e-book)

Rabu, 31 Agustus 2016

Surat Untuk Bulan


Senin, 22 Agustus 2016