Tampilkan postingan dengan label Tempat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2022

Waktu Ibu di Mama Cafe

 

Si ibu satu anak ini tampaknya ada-ada saja keinginannya.  Seperti hari ini, saya tiba-tiba bertanya ke Ayah Zen, apakah bisa ditinggal berdua dengan Zen aja. Eh, diiyain lagi. Akhirnya saya pun segera berganti kostum dari daster ke pakaian kasual, dan melipir ke Mama Cafe. Sempat ada jeda waktu sebelum berangkat sejak saya bingung mau nongkrong di mana. Kesempatan langka ini ingin kumanfaatkan sebaikkk mungkin. Yeah, ga selangka itu sih, soalnya Ayah selalu fine ditinggal berdua Zen, saat saya masak atau sibuk ngapain aja di rumah. Tapi rasanya beda aja kalau keluar dari rumah. Kayak berratttt lama jauh dari Zen. Maklum sih, dalam sebulan lebih sering 24 jam di rumah terus, kalaupun keluar ya paling 1-2 kali misal ke pasar atau rumah keluarga. Ya, intinya saya senang bisa ngafe. Tapi di sini pun masih mikirin anak xixixixixi

Jumat, 06 April 2018

Eceng Gondok di Sungai Sinre’jala




Foto: Ekha



Eceng gondok adalah pemandangan biasa di sungai-sungai kota. Kota dengan segala polusinya, termasuk di sungai yang dihuni banyak sampah, mendukung pertumbuhan tanaman ini. Sungai berlumpur dengan aliran yang tenang karena terhambat sampah-sampah menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan eceng gondok.

 

 

Eceng gondok secara umum dianggap sebagai gulma. Meski anak-anak kecil bisa saja melihat tumbuhan ini sebagai penghias sungai, serupa teratai. Eceng gondok dengan nama Latin Eichhornia Crassipes juga memiliki penyebutan yang berbeda di berbagai daerah, seperti dalam bahasa Makassar disebut capo-capo.

 

Eceng gondok adalah tanaman hidrogami, atau penyerbukannya dibantu oleh air. Selain itu, proses pertumbuhannya sangat cepat dan mudah menyebar menutupi permukaan air, oleh karena itu tanaman ini termasuk gulma yang dapat menghambat oksigen dalam air sehingga mengganggu kehidupan ikan.

 

Tanaman air ini juga menjadi penyebab pendangkalan sungai. Eceng gondok yang mati akan layu dan tenggelam, menumpuk di dasar sungai. Selain itu, permukaan daun eceng gondok yang lebar akan mempercepat penguapan dan mengurangi volume air.

 

Pertumbuhannya yang cepat juga mengganggu lalu lintas air. Seperti yang diutarakan Ibu Milani yang saya temui di depan rumahnya yang langsung menghadap ke sungai. Kadang ada perahu kecil yang menjala ikan di sungai dan langsung dijual di rumah-rumah pinggir sungai, tapi itu kondisional, karena jika sungai tertutupi eceng gondok, nelayan sungai tidak bisa lewat. “Biasanya ada orang menjala di sini baru na jual mi dekat-dekat sini. Kalau tertutup ki eceng gondok kayak begini, lewat saja tidak bisa,” terang Ibu Milani. Jenis ikan yang biasanya terjala adalah ikan nila, ikan gabus, dan ikan air tawar lainnya.

 

Kamis, 11 Februari 2016

Pasir dari Tanjung Aan

Kita bisa melihat Tanjung Ann dari atas Bukit Merese. Pantainya lagi surut aja masih cantik hihi,

Sumpaah nemu tulisan lama ini di draft! Kirain udah di publish ternyata selama ini...

Hari ke-4 kita di Lombok, tepatnya 18 Agustus 2015 (busett udah berapa bulan yang lalu tuh)
Desma bertekad untuk membawa pasir sebagai oleh-oleh (hah?!), katanya titipan adeknya.
Walau gak sempat bawa pasir dari pulau Gili Trawangan, tenang, ada banyaak pantai yang akan kami datangi selanjutnya. Nah hari itu kami melanjutkan trip dengan menumpang mobil omnya Desma. Sampai disiapkan bekal segala. makasih ya om dan tante :')
 
Mobilnya dibawa sama Bang Jaya, yang tentu saja mengerti jalan dengan sangat baik, trus ada juga Bang Tara temannya Kak Jaya, serta Fia dan Fahri sepupu Desma.

Kiri ke kanan: Bang Jaya, Fahri dan batu akiknya, Bang Tara, Desma, Fia, Kawsar, Ekha (saya sendiri), dan Azizah. Baru berapa hari jalan-jalan kita udah coklat eksotis aja :3

Kami pun berangkat dari Mataram menuju Lombok bagian (kayaknya) Selatan, seperti yang tertera di peta. Tempat 'pertama' (selain Alfamart) yang kami singgahi adalah Selong Blanak. Pantainya sangat indah, dulu sih hanya bisa liat foto-fotonya di Instagram, tapi aslinya indah betttt. Selong Blanak adalah pantai pasir putih --pasirnya halus banget, bisa saya pake buat scrub. hehe.
Alhamdulillah Azizah sudah baikan setelah kemarin sempat flu sepulang dari Gili Trawangan.

 

Senin, 14 September 2015

3 Hari dan 2 Malam di Laut Lepas



Warning: Cerita perjalanan kapal 3 hari dan 2 malam ini hanya ditujukan bagi yang benar-benar penasaran dan punya cukup waktu senggang untuk membaca postingan ini.
Saya lumayan sering bertanya-tanya dalam hati saat menonton sebuah film atau membaca sebuah cerita, saat sang tokoh melewati waktu begitu saja, entah a few weeks later, three months later, sampe bertahun-tahun kemudian.

Apa kira-kira yang tokoh itu lakukan?
Mungkin penulis ingin memberi tahu kita bahwa si tokoh baik-baik saja selama waktu tersebut, semuanya berjalan biasa dan mengalir apa adanya.
Ya, waktu tak terasa terus berjalan, dan sang tokoh kembali melanjutkan kisahnya.
Saya kembali memikirkan hal tersebut sesaat sebelum meninggalkan Makassar, errr Pulau Sulawesi for the first time in my whole life *cah, bahasanya

Dan perjalanan kapal ini akan memakan waktu selama 3 hari dan 2 malam. Kalau cuma 2 malam sih gak terasa kita udah sampai di tujuan. Tapi realita berkata lain -_-
Setelah berpisah dengan Kak Eka dan keluarganya (namanya samaan, kakaknya Azizah) yang berbaik hati mengantarkan kami ke pelabuhan, kami pun bergegas masuk ke "halte" dan entah kenapa bukannya langsung naik ke kapal kitanya malah duduk-duduk di bangku. Barulah setelah ngeh, kita langsung angkat koper eh maksud saya carrier dan daypack masing-masing (iya kita backpackeran kak, edisi jalan-jalan mahasiswa dengan alibi adventuran).

Pas naik di atas KM Tilongkabila, Masyaallah. Syok banget pemirsa. Karena baru naik kapal untuk pertama kalinya, jadinya saya sangat bingung mau kemana, begitu pun dengan teman-teman seperjuangan saya, para cewek strong, cukup strong setelah apa yang mereka semua alami (intinya kita semua jomblo) dan cukup informasinya karena dikhawatirkan postingan ini terlalu oot dan terlalu baper jika membahas hal tersebut. *serius guys, ceritanya panjang dan mengharukan

Kami masih bingung mau kemana karena semua space di dek penuh dengan penumpang. Kami pun menaiki tangga yang juga sangat crowded. Dek kedua dan ketiga kami lewati begitu saja karena jelas terlihat sangat penuh. Sampai di dek empat kami mulai mencari tempat kosong. "Kapal kok ramai banget ya? Padahal keberangkatan 2 jam lagi". Begitu pikirku saat belum mengetahui bahwa kapal ini berlayar dari Minahasa dan saat sampai di Pelabuhan Makassar sudah hari ke lima. Di tambah dengan fakta saat itu memang lagi HIGH SEASON!!
Kami keliling di dek empat dengan cukup kesulitan karena koridor dipenuhi penumpang yang menggelar tikar, kami pun naik ke dek 5. Sampai di ekor kapal kami finally menemukan tempat kosong yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk kami berlima. Kami menggelar tikar, menyusun carrier dan daypack dan duduk berjejer.
Sempat risih disini tapi diusahain gimana nyamannya. Cuma 3 hari 2 malam kan, pasti bisa lah.
Ambil hikmahnya juga, tempat kami berada cuma beberapa langkah dari musholla dan tempat wudhu, ada toilet juga sih tapi gak semua orang bisa pakai, gak tahu kenapa, tapi kata bapak-bapak di dekat kami toilet itu untuk para awak kapal dan tamu VIP saja. Jadi kalau kita mau ke toilet harus turun ke dek 3. Kita mah apa atuh.

Hikmah lainnya karena kita ada di dek bagian belakang, kami leluasa nongkrong melihat pemandangan, gak kepanasan, dan punya banyak teman ngobrol. Pemandangan apanya yang ada cuma laut dan laut. Eh jangan sedih, justru kita bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam (kapalnya kan ke arah selatan), serta melihat gugusan pulau-pulau kecil yang kami lewati.
Ada kejadian lucu bahkan saat kapal belum berlayar. Jadi di kapal tuh ada banyak asongan Dan yang bikin kami ngakak adalah teriakan teriakan bapak penjualnya. "Nasi ayam, nasi ayam, jangan pura-pura nda lapar" sesaat kemudian terdengar lagi, "Nasi ayam, nasi ayam, jangan pura-pura tidak dengar, jangan pura-pura miskin" hahah belum lagi penjual asongan lainnya, "Pop mie, pop mie, gratis garpu plastik", yaiyalah pak ada garpunya, mau makan pop mie pake tangan?
Sisa satu jam sebelum kapal berlayar, kami pun membuka snack pertama kami dan melihat-lihat rencana perjalan kami begitu tiba di Pulau Lombok. Banyak yang lalu lalang depan kami karena tepat di serong kanan kami ada tangga naik ke dek enam. Banyak yang berpakaian khas pendaki, mungkin mereka mau upacara 17-an di Puncak Rinjani, who knows? Soalnya kami udah hampir mirip pendaki tapi ternyata backpacker. Banyak juga bule-bule backpacker yang naik di kapal ini.
Tiba-tiba azizah berbisik sambil matanya mengarah ke lelaki yang berdiri di depan kami, "eh kayaknya kakak itu backpacker juga deh". Karena kakak itu terlihat sendirian dan sepertinya satu daerah juga karena naik dari Pelabuhan Makassar, kami pun menyapanya dan menawarkan tempat di sebelah kami. Masih bisa di toleransi jika ditambah satu orang lagi kok :D

Namanya kak Adrian, dipanggilnya Iyan. Kak Iyan baru saja lulus dari Fakultas Hukum UMI, dan Kak Iyan berencana untuk nanjak di Rinjani. Dia sendirian ke lomboknya tapi sudah janjian dengan temannya yang berangkat dari Semeru dan akan bertemu di Pelabuhan Lembar. Masih setengah jam lagi sebelum kapal berangkat. Kami bermain kartu Uno untuk menghibur diri akan rasa bosan menunggu keberangkatan pertama kami dengan kapal laut.
Peluit pertama terdengar, kami langsung menegakkan posisi duduk dan bertepuk tangan *astaganaga *maklum terlalu excited kitanya

Kami pun duduk melingkar dan berdoa bersama. Kami juga sempat update foto di Instagram, haha.
Kapal berguncang halus pertanda mesin kapalnya sudah bekerja. Perlahan tapi pasti kapal seberat 6400 ton ini mulai bergerak menjauhi Pulau Sulawesi.
Untungnya kami dekat dengan musholla jadi kami bisa sholat, numpang ganti pakaian (kita gak mandi selama di kapal untuk alasan tertentu), dan tentu saja numpang charging handphone.
Waktu di kapal laut sudah seperti di dalam kelas, sangat sangat terasa setiap menitnya. Ampun dahh. Setidaknya kami punya banyak pembahasan dan mengobrol panjang dengan Kak Iyan yang akan menjadi teman perjalanan kami sampai tiba di Pulau Lombok dan si Bapak Kurus berambut panjang, saya cukup menyesal untuk lupa nama beliau :(
Saat maghrib menjelang, laut membiaskan lembayung senja, membuat suasana lembut dan romantis. Kami akhirnya makan setelah Kak Iyan menawarkan hatinya eh makanan deng.  Haha. Bagi kami menu makan malam ini bisa dibilang mewah, dibanding makanan yang disediakan kapal.
Pop mie + ketupat + Ayam goreng + Kecap sambal.
Kurang apa lagi coba? Kami pun makan dengan lahapnya, what ever with jaim-jaiman.


Jurit Malam
Akhirnya malam pun tiba.
Saya sedikit lupa apa yang kami lakukan saat menghabiskan malam pertama di kapal tapi tak bisa lupa bagaimana rasanya kenyang angin laut. Saat malam ombak lebih kencang. Pengaruh gravitasi bulan. Angin yang berhembus pun tak sekedar angin. Untung percikan airnya terhalang tabung survivor. Tapi tetap aja dingin. Sudah pukul 9 malam, aku dan azizah duduk pinggir dek, sedang yang lainnya tertidur lebih dulu.
Selamat pagi.
Saya terbangun saat mendengar bunyi adzawn subuh tadi tapi belum bisa move on dari posisi wenak saya. Apalagi saya lihat musholla dan tempat wudhu sangat sangat sesak. Setelah akhirnya saya dan desma sholat subuh, pas keluar ternyata mataharinya sudah nongol.

Subhanallah ini adalah the best sunrise i ever seen. Hanya ada matahari berbatas laut. Kami hanya bersih-bersih dan sholat maghrib. Tak ada yang tergerak untuk mandi. Kecuali Kak Iyan! Huhu :'D
Kami sarapan buras, popmie dan sisa ayam goreng kemarin.. lumayan masih layak makan. Setelah makan sesuatu dalam tubuh ini bergejolak. So dizzy. Jadi saya minum antimo dan lucunya obatnya malah saya emut bukannya ditelan. Gimana rasanya bu? Pedesss. Lidah saya jadi mati rasa dan kepedisan.  Sambil meratapi lidahku yang mati rasa, saya pun tertidur.

10:57 am
Tilongkabila Tiba di Labuan Bajo 

Setengah penumpang kapal turun dan kami serta kak Iyan berpindah tempat ke dek yang lebih luas tapi masih berada di dek paling belakang.


12:31pm
Dan Perjalanan Masih Berlanjut

Kapal sudah berlayar kembali sekitar 40 menit yang lalu. Tapi jauh di belakang kami, pulau NTB masih terlihat. Kami berlima untuk pertama kalinya tertidur bersamaan. Tadi sempat mengeluh, soalnya kapal malah tambah sesak karena lebih banyak penumpang baru yang naik daripada penumpang yang turun. Ditambah penumpangnya lebih rese dari yang sebelumnya. Pokoknya serasa tidur di tengah- tengah pasar.

Ismi, Kawsar, dan Nurul sudah duduk- duduk di atas dek. Sedangkan saya dan Desma di bawah, jagain tempat kami yang beralaskan matras dan rain coatnya kak Iyan. Karena kalau tidak dijaga, bisa- bisa penumpang lain malah bikin lebih keki. Masa iya ada penumpang lain yang tidur di tempat kami. Terpaksa deh ya kami diam aja, meski Kak Iyan terpaksa mengungsi karena tempatnya dipake penumpang tersebut.

1:00 pm
Less Than 24 Hours Left

Kurang dari 24 jam kapal akan tiba di pulau Lombok. Tapi sekitar 3 jam lagi kapal akan transit di pelabuhan Bima. Entah kali ini banyak penumpang yang mau turun atau malah sebaliknya. Dua gadis yang kira-kira lebih muda setahun dua tahun dari kami, termasuk yang akan turun di pelabuhan Bima nanti. Saya lupa nama mereka tapi setahuku mereka baru saja tes masuk perguruan tinggi di Makassar.

Lapar tapi nikmat
Biasanya di rumah saya tidak terlalu banyak makan, paling cuma satu atau dua kali. Tapi entah kok sekarang jadi sering lapar ya.
Siang terakhir di kapal
Pertama kali lainnya kami makan makanan kapal. Nasi plus ikan dan sayur. Tapi kami cuma makan nasi dan ikannya dan ditambah sedikit abon. Enak, apalagi kondisi sedang lapar-laparnya. Rasanya pengen cepat-cepat sampai di Lombok.
 
Sudah 21 jam kami di kapal. Sudah terbiasa dengan suasana kapal dan kami mulai bete. Mungkin karena sedang bosan, lelah atau kebanyakan angin laut kami jadi se-badmood ini. Tapi ya ini emang kelas ekonomi, harus mandiri dan yang penting saling menghargai lah sesama penumpang. Kalau sudah seperti ini saya juga tidak nyaman bagaimana negurnya. Ah. Persetan dengan nyaman gak nyaman. Everythings gonna be allright.


1:54 pm
Hargai Proses Nikmati Hasil.

Begini ternyata rasanya backpacking dengan naik kapal. Sepertinya saya kebanyakan mengeluh deh hari ini. Yah mulai sekarang biasain diri aja. Di kapal banyak orang dari daerah yang berbeda-beda. Duh jadi kangen sama kantor. Kok kantor sih? Haha.
Angin siang lumayan sih, sepoi sepoi asik. Ngajakin tidur siang.
Kapal terus melaju, melaju, dan melaju membelah laut
Di kiri kanan kami sudah melihat daratan dan gunung (gak tau nama gunungnya apa)
Tidak lama lagi kapal akan sampai di Bima gaes.


8:36 pm
Malam Kedua

Kami baru saja selesai makan dan melanjutkan aksi ngeden bareng haha. Kami juga sempat mengecas hape di musholla (secara diam-diam tentu saja) dan berganti pakaian di bilik yang ada di musholla. Meski tak mandi, stay cool aja lagi. Sekarang kapal kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Lembar, akhirnya.
Senang sekali setelah kami akhirnya bisa melihat daratan Pulau Lombok. Meski masih beberapa jam lagi, kami sudah berbenah, bersiap menyambut tujuan backpacking kami. Kami mulai melewati gugusan Gili barat (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan).
Kapal pun merapat ke dermaga saat ashar tiba.

Sampai jumpa KM Tilongkabila, semoga bisa ikut perjalananmu lagi di lain waktu :) Postingan ini memang hanya menceritakan kegiatan kami di atas kapal laut, soal cerita perjalanannya nanti di postingan selanjutnya yaa

Minggu, 13 September 2015

Ekha & Plecing Kangkung



Plecing Kangkung --Kuliner khas lombok
Makanan yang satu ini..
Cukup misterius.
Menyita perhatian.
Bikin penasaran.
Punya banyak kenangan.
--2015



Puisi yang terdengar sangat lapar.
Saat itu hari ke empat kami di Lombok, sepulang dari keliling Kota Mataram diantar om, tante, dan sepupunya Desma, kami lagi-lagi di traktir. Plecing kangkung, salah satu makanan yang recommended banget kalau ke sini.
Kami berempat menunggu dibelakang ibu pembuat plecing. Yang saya perhatikan pertama sih kangkungnya ya. Enak nih kangkung. Namanya aja plecing kangkung, yaiyalah pake kangkung -_-
Sampai di rumah omnya Desma, kami pun bersiap-siap untuk memakan Plecing Kangkung pertama kami. Kawsar pun ke dapur mengambil piring dan sendok.
"Makan plecingnya tidak pakai sendok, pakai tangan, di aduk semua", kata tantenya Desma.
Haha maklum tante, baru pertama kali.

Desma, Azizah, dan Kawsar pun mulai menyantap plecingnya. Sedangkan saya makan setiap komponennya satu persatu secara random. Kangkung.. tauge.. lontong.. kelapa parut.
Alay bener yak? Iya haha. Soalnya rada khawatir. Khawatir kalau di mix begitu aja, nanti rasanya jadi mirip gado-gado. Dipostingan sebelumnya kan udah dibahas kalau saya phobia rasa gado-gado.
Pada kesempatan kedua, sebelum kami berangkat ke Bali, kami lagi-lagi di traktir plecing kangkung. Kali ini dibeli di penjual berbeda. Yang kedua ini rasanya lebih enak, dan tidak terlalu pedas seperti kemarin. Makannya makin enak ditemani dengan kerupuk kulit sapi. Tuh kan, sampai ngiler T_T di Makassar ada yang jual plecing nggak ya, haha.

Kamis, 02 Juli 2015

Wisata Karst Rammang-Rammang Maros

Berita basi. Warning. Expired detected.

Aku ingetin yah, ini tuh cerita kedaluarsa,
tapi kenapa masih lanjut baca juga? Kenappa?
Ceritanya memang sudah out of date,
tapi karena pernah niat mau posting dan tidak ada salahnya juga jadi tidak mengapa lah.



Ada yang menarik saat beberapa bulan yang lalu kami ke sana.
Karena saat itu awal mei dan kadangkala hujan, otomatis becek kan, ceweknya rata-rata pakai sneaker tapi untungnya semua pakai jaket.
Sampai di medan ternyata sepatu sangat sangat tidak cocok! 
Sebaiknya ya memakai sendal hiking/trecking gear supaya pijakan lebih nyaman,
dan nggak sedih juga liat sepatu kets andalan lo dikeroyok lumpur.
Pakai tidak pakai jaket itu terserah kalian dan ketahanan tubuh kalian sih ya.

Saat itu kita yang menuju ke telaga bidadari harus melewati area tanah gambut dengan lumpur bisa sampai paha. Ya kali kalau lo tinggal mungkin bisa .. whushh

Jangan sok mau lepas alas kaki begitu liat sepatu lo yang menyedihkan.
Karena di kawasan karst pastilah banyak bebatuannya yang tajamnya lumayan 😂

Di tujuan selanjutnya yaitu di mata air berlian dan gua (lupa nama guanya) yang juga memanjakan mata. Harus menggunakan jasa perahu mesin (alat transportasi utama) sepanjang sungai tapi rawa-rawa gitu. Ngeri-ngeri sedap.

Yah saya bisa menjamin, kalian akan sangat menyukai tempat ini! Pokoknya bakalan suka.
Banyak spot keren lho. Belum lagi tempat ini terbesar ketiga di dunia setelah china dan vietnam.
Baru seperempat jalan ya kita udah pada kumal.
Eh sampai di gunung karstnya, masa kita kalah,
malah ada mbak-mbak pake selop ya ampun, di tanah becek karena gerimis?

Peringatan buat kalian ya.
Entah saya ini pantas atau tidak mengingatkan kalian, yang jelas saya merasa harus menyampaikannya *emang apaan sih kha?
Manusia memang suka menikmati yang indah-indah. Menikmati.
Menjaganya itu yang kayaknya mereka saling menunjuk.
Please jagalah lingkungan, minimal urus sampah lo sendiri.
Jadi ingat cerita tentang gunung dan laut *kayak judul lagu payung teduh haha

Banyak pendaki "karbitan" yang memaksakan diri naik, foto-foto, nulis pesan-pesan titipan tapi juga nitip sampahnya digunung. Emang gunungnya bisa buang sampah apa? Haha lol.

Tidak semua pendaki gunung dan penikmat alam itu mencitai alam.
But everyone of nature-lover does.
Eh kayaknya ada yang aneh dari quote-ku barusan haha.
Intinya nih ya mencintai alam bukan soal lo punya banyak foto di instagram pelesiran di alam bebas, bisa nulis pesan dari ketinggian gunung, jalan-jalan santai dipantai.

Tapi segalanya cyin, segala yang bisa kalian usahain untuk alam.
Mengolah sampah, menghijaukan lingkungan, diet plastik dan banyak lagi.
Yah semua tujuan besar dimulainya dari langkah-langkah kecil guys.
Think globally, act locally.