Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2025

Berhasil dan Bertumbuh, Bersama Laptop AI dari ASUS




Beberapa hari lalu aku berkesempatan menghadiri event Blogger Gathering Asus Makassar 2025 yang diadakan di hari Kamis, 11 Desember 2025 di Hotel The Rinra. Bertajuk “Together We Win, Together We Grow”, ASUS memperkenalkan produk terbarunya di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan.

Hari sangat cerah, kami tiba pukul 4 sore di Hotel Rinra. Di entrance booth aku menemui banyak produk terbaru ASUS di display. Berbagai laptop, desktop, aksesoris, claw machine, dan tentu saja photobooth.


Kebutuhan Teknologi Digital Keluarga

Ini pertama kalinya aku ikut ASUS gathering, jadi aku begitu excited. Tapi ternyata tidak cuma aku, suamiku pun bersemangat menemani aku ke event. Kupikir sekalian saja riset laptop yang cocok untuk kita berdua, karena saat ini kami tidak memiliki laptop pribadi. Untuk sehari-hari aku memakai PC all-in-one upgrade SSD untuk pekerjaan grafis maupun mengetik, dan tablet untuk menggambar atau streaming tapi penyimpanan terbatas. Sementara suami hybrid memakai laptop kantor yang restricted dan mini PC + monitor untuk project lain. Meski semua device di atas bisa dipakai untuk pekerjaan kami, tapi belum menunjang gaya kerja, mobilitas, dan portabilitas pekerjaan kami —yang hanya bisa diatasi oleh laptop. Jadi ada beberapa hal yang bisa kami pertimbangkan untuk list laptop idaman kami.


Inovasi Laptop AI Paling Lengkap, Mulai dari Entry Level

Sabtu, 15 Februari 2020

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2020 di CGV Makassar




Festival Sinema Australia Indonesia atau disingkat FSAI diselenggarakan di Makassar pada hari ini, 15 Februari 2020. Tahun ini adalah tahun ke lima FSAI, yang (telah) dilaksanakan di lima kota besar Indonesia yaitu, Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Mataram, dan di Yogyakarta untuk pertama kali. FSAI 2020 adalah persembahan Australia Connect, menampilkan serangkaian sektor kreatif Australia yang berkembang pesat melalui musik, film, makanan, dan seni.


sumber

Selain membawa beragam sinema ke penonton Indonesia, FSAI memberikan kesempatan bagi mahasiswa film dan sineas muda berbakat untuk belajar dari pembuat film dan alumni Australia. Selain film Australia, ada juga beberapa film lokal Indonesia yang ditayangkan, seperti Bebas, Susi Susanti: Love All dan Kulari ke Pantai.

***


Berbeda saat Festival Film Jerman 2019 beberapa bulan yang lalu, kali ini di FSAI aku cukup beruntung bisa nonton 3 film.


sumber


Dari keempat film di atas, aku tidak kesampaian nonton Angel of Mine karena kehabisan tiket. Sistem pengambilan tiketnya adalah ambil satu jam sebelum pemutaran, atau bisa dibilang antri on the spot. Jadi, ketika sementara di dalam audi menonton Susi Susanti, tiket untuk film terakhir sudah habis. Tapi tidak apalah. Rasanya sudah senang bisa marathon 3 film bagus dan gratis. Di mana lagi kalau bukan di festival film. Banyak film bagus yang terbatas pemutarannya di festival tertentu dan tidak tersedia di platform film.


Bebas (2019)

Sebelumnya aku dan Ikha sudah menonton film Bebas bersama teman SMP kami, Yurika, September 2019 lalu saat ulang tahun kami. Tapi berhubung film ini sangat bagus dan rewatch material, sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Film ini adalah remake dari film Korea Selatan berjudul Sunny. Film Bebas dan Sunny secara plot memang sama, tapi tentu ada beberapa perbedaan menyesuaikan dengan kondisi dan budaya di Indonesia. Aku juga sangat suka dengan soundtracknya. 


Emu Runner (2018)

Film indie garapan Imogen Thomas ini berkisah tentang Gem, seorang anak perempuan suku Aborigin di Australia yang baru saja kehilangan ibunya secara mendadak. Kehilangan sosok ibu yang berdampak pada Gem dan keluarganya, membuat Gem melampiaskan dengan bermain di hutan dan berlari. Di sinilah Gem menjalin kedekatan dengan alam dan hewan. Gem ternyata bisa berkomunikasi dengan emu, binatang tradisional yang sering diceritakan oleh ibunya. Gem, si pelari cilik menggambarkan pemberontakan anak yang kehilangan kehangatan keluarga yang relatable dengan mengangkat unsur-unsur tradisional.


Susi Susanti: Love All (2019)

Adalah film biopik yang ditulis Syarika Bralini dan disutradarai Sim F. Sayang sekali aku baru menonton film keren ini. Dari mana saja aku?

Sejak kecil aku begitu kagum dan menghormati olahraga bulutangkis berkat para atletnya. Berdedikasi dan menebar motivasi. Termasuk legenda pebulu tangkis putri, Susi Susanti. Namanya selalu ada di deretan atlet berprestasi. Tapi aku ga nyangka lho ternyata beliau memang sekeren itu! Ih keren sekaliii mau sungkem.

Film ini tidak hanya menggambarkan kerja keras Susi Susanti menjadi atlet dunia, tapi juga perjalanan cintanya dengan sang suami yang juga atlet bulu tangkis, Alan Budikusuma. Ah, terima kasih FSAI, aku mendapatkan kehormatan untuk menonton film keren ini.


Bonus foto di sela jeda film:






Senin, 25 November 2019

Arsip; Rock In Celebes 2019




Trans Studio Makassar,

23 November – 24 November 2019.













Semua gambar hanya diambil dengan kamera handphone Oppo A37.

Senin, 18 November 2019

Menari Bersama di Ruang Publik: Indonesia Menari 2019


Demi apa. Kenapa saya mau mau saja ketika saudari saya, Ikha mengajak untuk ikut Indonesia Menari 2019. Menari lho ini, dan public! Normalnya saya akan menjawab tidak. Tetapi karena Ikha yang minta supaya dia ada yang menemani, makanya saya hmm skuy lah. Karena menarinya ramai-ramai dengan peserta lain, jadi mungkin ga bakal ada yang merhatiin saya nari kecuali tim penilai. Ya betul zekali, saya tidak berniat mendapat penilaian tinggi karena sadar diri, maka dari itu saya memakai outfit segakmenonjol mungkin. Maafkan saya hei tim Indonesia Kaya, saya ikut cuma menambah daftar penerima goodie bag kalian. Anyway goodie bag-nya keren lho. Isinya marchendise kaos dan totebag canvas leather keren + sembako sabun, mie, teh javana dan produk Wings lainnya.


Ikha memberitahukan info event tersebut sekitar 2-3 bulan sebelumnya. Ada video di channel Youtube Indonesia Kaya yang bisa kita akses untuk belajar koreografi Indonesia Menari 2019. Peserta bisa dari berbagai kalangan usia, mau penari ataupun bukan, siapapun boleh asalkan bisa menarikan koreo secara lengkap. Peserta bisa individu, bisa juga kelompok 5-7 orang. 


Musik pengiring Indonesia Menari 2019 ini terdiri dari 7 part sebagai berikut:

  1. Anging Mammiri
  2. Ondel Ondel
  3. Sik Sik Sibatumanikam
  4. Dek Sangke
  5. Gundul Pacul
  6. Manuk Dadali
  7. Closing

Ya memang konsepnya adalah menarikan tari Indonesia dengan konsep modern. 


Acaranya serentak tanggal 17 November di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Makassar, Palembang, dan Medan. Untuk di Makassar, acaranya diadakan di Trans Studio Mall pukul 14.00 (tapi pas hari H ngaret sampai sekitar pukul 15.00)


***

Selama 2 bulan itu saya ngga ada persiapan sama sekali, hanya Ikha yang sesekali terlihat latihan. Kostum pun saya bingung. Nah di 2 minggu terakhir, barulah saya mati-matian menghafal koreo. Susah bos. Sudah tau diriku ini ga lihai menari, malah pede sekali latihan di hari-hari terakhir. Memang dari dulu saya selalu struggle dengan motorik. Saat belajar chord gitar saja, jari-jari ini rasanya berkelahi di atas fret.

Selasa, 16 Mei 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realize how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.

Senin, 27 Maret 2017

Urban GiGs Mocca X Payung Teduh

RIP kamera HP



Sebenarnya aku tidak merencanakan sama sekali untuk keluar minggu malam kemarin sebelum adek aku ni bilang why nott kita nonton Mocca dan Payung Teduh. Kupikir ya juga sih, ini Mocca dan Payung Teduh! Jadilah kami bertiga, aku, ikha, dan ugha, pada jam itu juga bergegas melipir ke Taman Pakui Sayang (iya sayang~)

Oh iya, gigs ini gratis tis tis. Kalau aku ga datang kemarin tentu saja akan jadi penyesalan dan membebani pikiranku untuk bertahun-tahun kemudian lol. By the way, baru kali ini juga aku ke gigs atau event bertiga sama adik hehe. Trus pas di entrance petugas meminta identitas. Kupikir ya setidaknya “menyeleksi” pengunjung (meski dugaan itu salah saat di pertengahan sampai ending acara)

kayak anak nyasar


Aku dan Ikha duduk menggelesot di rerumputan dengan mengambil posisi dekat dengan panggung, Ugha lebih memilih menonton ke pinggir di mana banyak orang merokok. Sekitar pukul 19.00, Mocca perform terlebih dahulu dengan beberapa lagu yang wajib ada di riding playlist-ku. Rasanya mau menangis mendengar live Mocca, terutama saat aku berdadah-dadah ke panggung dan Arina Ephipania balas melambai dengan ramahnya. She is the friendliest performer in the world.

Tiba-tiba suasana cukup dingin dan windy, diikuti tetesan-tetesan kecil air. Ternyata turun hujan. Siapa sangka? Jujur aku ga nyangka tapi si Ikha bawa payung! Katanya dia bawa payung buat jaga-jaga. Akhirnya kita sepayung berdua~

Setelah beberapa lagu, Payung Teduh naik ke stage dan berkolaborasi dengan Mocca! Kerumunan bertambah padat. Tahu lah ya, Payung Teduh lagi hype sekali. Hujan semakin deras, dan penonton “punk” semakin memanas. Sampai meja kayu, payung booth terangkat-angkat massa. Aku dan adik-adikku memutuskan balik duluan meski Payung Teduh belum selesai perform T_T

Saat di parkiran aku sudah mendengar Bang Is menegur penonton dengan bahasa kotor lokal. Lagian aneh bgttt penontonnya, Payung Teduh jelas-jelas band Indie folk jazzy, bukan Hard Rock atau Metal. Mana banyak bocil lagi, padahal ini gigs 18+ dan mestinya butuh identitas seperti KTP di entrance. But overall, I was so happy as there were butterflies flying inside me ehe


Selasa, 31 Januari 2017

ELE 2017 dan Keriuhan yang Belum Reda



Aurelia-aurita-blog



Sampai berapa lama suatu peristiwa mampu bertahan menjadi bahan obrolan hangat yang seakan tidak ada habisnya untuk dibahas? Satu minggu? Dua Minggu? Entahlah. Hari ini adalah minggu ketiga pasca ELE dan sebelum keriuhannya benar-benar reda dan akhirnya menjadi kenangan pembuka tahun 2017, aku akan menuliskannya sedikit. Ya, sedikit dari banyak sekali cerita yang muncul berkat ELE.

Jadi tahun ini adalah giliran angkatanku untuk menjadi pelaksana Elexhibition. Elexhibition atau biasa juga kami sebut ELE merupakan singkatan dari English Literature Exhibition.

Meski sudah lewat dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11-12 Januari tapi masih banyak rasa yang tertinggal di perhelatan tahunan anak jurusan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar ini, uhuyy. Oke mungkin bagi beberapa orang yang terlibat, iya seperti itulah.




Tema tahun ini adalah Islamorphosa. Setidaknya sampai dua minggu menjelang hari H. Jadi, saat beberapa bulan sebelumnya kami mengadakan rapat angkatan untuk menentukan tema kegiatan, ada beberapa usulan yang masuk, termasuk aku yang saat itu mengusulkan tema Islamorphosa ini. Sedihnya, banyak yang bingung dengan tema usulanku ini, bahkan saat voting, hanya 4 orang (doang) yang memberikan suara. Bahkan aku mendengar komentar semacam, "bisa gak usulnya jangan yang aneh-aneh begitu?"

And theeeen you know what? Di bulan terakhir persiapan ELE temanya diganti, dan Islamorphosa didapuk jadi tema tahun ini, huh apaan.





ELE bukan hanya pementasan yang wajib kami lakukan atas nama tugas akhir semester lima saja. ELE lebih dari itu. Meski pentasnya (hanya) 2 hari saja di bulan Januari, tapi persiapannya sendiri sudah sejak awal semester lima. Jadi kira-kira ada tiga bulan waktu kami untuk banting tulang mempersiapkan diri.

Panitia ELE terdiri dari perwakilan setiap kelas, sisanya pemain. Entah itu panitia atau bukan, masing-masing berjuang demi kesuksesan acara. 

Senin, 20 Mei 2013

Ke Makassar Writer's Day 2013

Suatu sore di Auditorium UNM..

Ekha, Lisna, Fatwa, Ria, dan Aisyah diberikan kesempatan oleh pak Roni, pengajar bahasa Indonesia di SMKN 2 Somba Opu untuk menghadiri Makassar Writer's Day.
Sejak jam menunjukkan pukul 10 hingga hampir pukul 2, kami berlima sempat heran, di antara ratusan peserta seminar dan bedah buku, hanya kami pelajar yang hadir.
Walaupun tidak terpaksa, kami pun mengikuti rangkaian acara dikitari oleh para mahasiswa sastra dan sastrawan lokal maupun nasional.

Di layar handphone tertera angka 03:45 PM, sudah ashar ternyata.
Kami pun diberitahu untuk pindah ke sayap kanan aula untuk mengikuti seminar penulisan puisi dan cerpen. Beberapa pelajar dari berbagai sekolah mulai berdatangan. Ternyata jadwal seminar untuk pelajar adalah sore, tapi tidak apa-apa, toh kami jadi dapat tambahan secuil pengetahuan dari acara yang kami ikuti sebelumnya.

Senja pun menjelang mengiringi cerita disela-sela diskusi yang berlangsung dengan penuh keramahan. Walau sebagian besar dari kami tidak saling mengenal, kami cukup nyaman. Kondensasi di kaca jendela membuat titik-titik air yang mengalir turun dengan pelan. Tak terasa sudah di ujung pertemuan.

Sebelum menutup acara, kanda Andika Daeng Mammangka mengumpulkan kami dalam suatu komunitas, Sastra Lilin-Lilin Kecil, agar selepas dari seminar ini kami masih bisa bersapa dan berbagi karya sastra satu sama lain.

Sebenarnya saya masih baru dalam dunia sastra. Pengalaman saya hanya mengikuti lomba cerpen dan lomba karya ilmiah, tapi belum benar-benar menggeluti kegiatan tulis-menulis. Baiklah, mungkin selepas ini saya bisa mengembangkan diri dan membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga :)

Salam untuk teman-teman di Sastra Lilin - Lilin Kecil
Find us on Facebook  https://www.facebook.com/groups/sastralilinlilinkecil/

Makassar, 20 Maret 2013