Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2022

Cuti Melahirkan 6 Bulan?





Minggu ini santer terdengar wacana DPR yang saat ini diketuai Puan Maharani menyepakati RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak dibahas lanjut untuk menjadi UU, yang salah satu isinya cuti hamil jadi 6 bulan. FYI, regulasi cuti melahirkan yang berlaku saat ini adalah tiga bulan. Sementara itu, di dalam RUU Ketahanan Keluarga dan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), cuti melahirkan ditetapkan selama enam bulan alias bertambah dua kali lipatnya. Kurang lebih begini konsepnya:



“RUU KIA juga mengatur cuti melahirkan paling sedikit enam bulan, serta tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan. Selain itu, ibu yang cuti hamil harus tetap memperoleh gaji dari jaminan sosial perusahaan maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan," [1]

Sabtu, 18 Januari 2020

Salam Cinta untuk Semua Perempuan yang Berlawan (Termasuk Menolak Catcalling)



Suatu hari di lini masa twitter, di antara banyak cuitan, saya tertarik dengan satu artikel yang dibagikan Magdalene.co. Tulisan berbahasa Inggris yang berjudul Stop Telling Women in Hijab to Accept the “Salaam” Catcalls, ditulis oleh Aulia Rizda Kushardini. Dalam tulisannya, Aulia menekankan pandangannya sebagai wanita berhijab yang tidak lepas dari catcalling –saya tidak mengganti kata tersebut dengan padanan kata yang sekiranya cocok dalam bahasa Indonesia karena memang belum menemukan makna rasa yang sama dengan istilah tersebut. Catcalling sendiri berarti siulan, komentar, panggilan mengenai hal-hal bersifat seksual terhadap perempuan yang lewat di jalan.

 

Tulisan Aulia mengungkapkan kegelisahan yang sama dengan semua perempuan saat harus berjalan kaki. Termasuk perempuan yang menggunakan hijab juga cadar pun tetap tidak bebas dari catcalling. Meski muncul dengan variasi yang berbeda. Saya sebut beberapa contohnya ya: Assalamualaikum ukhti. Masyaallah ukhti. calon istriku yang salihah. Dsb dsb yang kebanyakan terdengar cringey memang. Kalimat-kalimat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah pujian. Menurutnya, pujian mestilah bermaksud untuk membangun satu sama lain dalam prosesnya mengembangkan relasi antara pemberi dan penerima pesan. Bahkan bila yang dilontarkan adalah sebuah kalimat salam sekalipun tidak bisa kita lihat sebagai sebuah interaksi. Catcalling hanya eksis dari si pemberi. Kenapa banyak yang menutup mata betapa suitan seperti itu mampu membunuh kepercayaan diri seseorang yang tidak menyukainya. Selanjutnya bisa saja lebih berbahaya daripada catcalling. Karena ketidaksungkanan pelaku catcalling merupakan gambaran relasi kuasa yang timpang.

 

Minggu, 05 Januari 2020

Habitus Parasite



Di hari pertama tahun 2020, saya tidak mempersiapkan sesuatu yang spesial karena saya bukan penjual martabak. Saya menghabiskan hari libur di rumah melakukan hal-hal biasa namun membahagiakan. Lihatlah betapa sederhananya diriku. Mencuci piring, membuat mokacino sacet, membuat bakwan dan bersiap menonton maraton film-film bagus sangatlah membuatku gembira alih-alih keluar di antara tetes hujan yang sedang lucu-lucunya, mencari tempat tongkrongan di café, di mall, di kedai fast-food... huh sejujurnya saya juga akan senang kalau mengunjungi tempat-tempat tersebut. Tapi setiap keluar dari tempat itu saya merasa sedikit hampa. Saya tidak akan bohong kalau semua tempat itu memang menyenangkan. Indah dan berkilau.
Namun bagi seseorang yang sadar akan ketimpangan sebagai keprihatinan etis, agaknya dia akan merasa kurang nyaman berada di lingkungan hedonis. Tapi di sisi lain, justru karena fakta akan ketimpangan yang signifikan itu, tempat-tempat glamor dan barang-barang mewah semakin diminati sebagai upclassing, di mana masyarakat seolah-olah mengalami mobilitas sosial karena peningkatan penghasilan –yang ditunjukkan dengan peningkatan konsumsi atau pemilikan barang. Selera atau cita rasa segelintir orang akan barang terlahir dari struktur sosial dan dipertahankan untuk menegaskan status atau kedudukannya. Pierre Bourdieu mengistilahkannya sebagai habitus.

Sabtu, 14 Desember 2019

Diskusi dalam Rangka 16 HAKTP: Perkawinan Bukan Kepentingan Anak


Hai, it’s me again. Masih di bulan yang sama, saya sempat ke Perpustakaan BaKTI lagi. Setelah kemarin datang untuk ikut Diskusi Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, kemarin saya ikut Diskusi dalam Rangka 16 HAKTP: Perkawinan Bukan Kepentingan Anak. For your information, 16 HAKTP adalah 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang berlangsung setiap tanggal 25 November sampai 10 Desember, lebih lanjut baca di sini: 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

 

UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan (Perubahan Undang-Undang UU No. 1 Tahun 1974) mengubah batas minimal menikah baik laki-laki dan perempuan yang akan menikah minimal di usia 19 tahun. Sebelumnya, batas usia menikah bagi laki-laki ialah 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk menekan perkawinan anak.

Meski batas usia perkawinan perempuan sudah dinaikkan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, bukan berarti perkawinan anak tidak akan terjadi lagi, justru yang dikhawatirkan ke depannya kemungkinan permohonan dispensasi perkawinan jadi meningkat. Dispensasi perkawinan adalah pemberian hak kepada seseorang untuk menikah, meski belum mencapai batas minimum usia pernikahan. Nah apakah di lingkunganmu masih ada yang hendak menikah setelah lulus SMA/sederajat? Kalau iya, itu bisa masuk kategori pernikahan anak mengingat rata-rata usia lulus sekolah adalah 16-18 tahun (di bawah 19 tahun).

 

Selasa, 10 Desember 2019

16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Hari ini, 10 Desember adalah hari terakhir rangkaian 16 HAKtP.

16 HAKtP atau 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye nasional yang inisiasi Komnas Perempuan sejak tahun 2003 dalam rangka memperingati kampanye internasional 16 Days of Activism Against Gender Violence. Kampanye ini untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. [1]

Kampanye internasional 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan telah diperingati sejak tahun 1991 dan merupakan gagasan dari Women’s Global Leadership Institute dengan bantuan dukungan oleh Center for Women Global Leadership.

Kampanye ini dilakukan setiap tahun mulai tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sampai dengan 10 Desember, yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia internasional.

Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. 



25 November; Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan untuk Mirabal Sisters (Patria, Minerva & Maria Teresa) yang gugur pada tanggal yang sama di tahun 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan penguasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran. Tanggal ini sekaligus juga menandai pengakuan kekerasan berbasis gender. Tanggal ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama.

 

Minggu, 08 Desember 2019

Diskusi: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak


Tadi malam saya berkesempatan datang ke Perpustakaan BaKTI untuk menyimak diskusi bertajuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, yang diinisiasi Perempuan (di) Makassar bekerja sama dengan yayasan BaKTI.

Diskusi ini dibawakan oleh Ibu Lusi Palulungan dan Ibu Husaema Husain, membahas pemahaman tentang beragam bentuk kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak serta langkah preventif untuk mencegahnya. Dan untuk mencegah, kita harus memahami terlebih dahulu bentuk-bentuknya. Kekerasan berbasis gender ini bisa terjadi dalam bentuk fisik, psikologis, dan seksual. Sehingga intimidasi dan alienasi terhadap perempuan atas kinerjanya dalam pekerjaannya di masyarakat juga termasuk kategori kekerasan terhadap perempuan.

 

Mengapa kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak dibicarakan? Bukankah laki-laki juga bisa mengalami kekerasan?

 

Contohnya bisa kita ambil dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dianggap sebagai hal yang lumrah dan merupakan ranah pribadi. Hal tersebut yang kerap kali membatasi korban untuk melaporkan kasus kekerasan yang dialami dan memilih mendiamkan kekerasan yang dialami. Apalagi jika pelaku kekerasan adalah suami yang menjadi pencari nafkah keluarga. Juga dapat diperparah dengan anggapan dan label negatif dari keluarga dan sekitar yang lekat dengan budaya patriarki dan toxic masculinity. Perempuan dianggap harus patuh terhadap suami termasuk menerima kekerasan. Tidak terbatas pada hubungan suami istri, hampir semua lini kehidupan bermasyarakat, menempatkan perempuan sebagai yang liyan. Pemahaman akan kesetaraan gender pun hanya berkutat di perayaan Hari Kartini dan kesalahpahaman antara kodrat dan gender.

 

Jika kebanyakan pelaku adalah orang terdekat, lantas  di mana tempat yang aman bagi perempuan?

 

Bahwa kekerasan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Dalam hal ini,  perempuan dan anak menjadi kelompok yang paling rentan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak utamanya kekerasan fisik dan seksual yang tidak jarang dilakukan oleh orang terdekat. Kasus-kasus seperti ini pada umumnya berakhir "secara kekeluargaan" dan tidak dilaporkan dan ditindak secara hukum (Bismillah sahkan RUUPKS!)

Selasa, 29 Oktober 2019

Senjakala Kota Nelayan




Oleh: Ekha Nuh
Sabtu kemarin akhirnya saya dan seorang teman berkesempatan lagi berkunjung ke Pantai Marbo di Tallo, Kota Makassar. Kali ini kami ikut nobar film Silent Blues of The Ocean atau “Senandung Sunyi Samudra” yang diadakan Ruang Abstrak Literasi. Pemutaran film ini menghadirkan 3 pembicara, Ibu Saenab sebagai perwakilan nelayan perempuan, Pak Amir yang juga nelayan setempat dan Rifal Najering, sejarawan maritim. Kami berdua sudah tiba di Pantai Marbo sore, sekitar 3 jam sebelum nobar mulai dan masih sempat melihat gelora senja di balik pondasi timbunan beberapa meter tepat di depan. Tenang, berlumpur, berminyak, sampah terapung, dan tak ada riak air. Pemandangan laut yang biasa ditemui di semua pantai proyek reklamasi.

Jumat, 05 Juli 2019

Film Pendek Frankenstein: Lahir adalah Satu Cara; Cara Kedua adalah Kematian




Film pendek Frankenstein diadaptasi dari novel karangan Mary Shelley saat usianya 18 tahun di Jenewa 1818. Proses lahirnya novel Frankenstein spontan namun bisa saja terinspirasi dari eksperimen serupa pada masa itu.

 

Cerita Frankenstein sendiri sudah dibuat dalam berbagai media dan versi. Ada komik dan film.  Salah satunya Victor Frankenstein (2015) yang diperankan Daniel Radcliffe dan James McAvoy. Film layar lebar ini tidak bisa lah saya bandingkan dengan film versi AG34.  

Kan mustahil James McAvoy saya banding-bandingkan dengan Ryan Athaillah.



Dr. Victor Frankenstein adalah nama si dokter ambisius itu sendiri meski nama Frankenstein juga sudah terlanjur melekat pada si monster buatan. Obsesi menghidupkan orang yang sudah meninggal, sebuah usaha melampaui takdir, menampik rasa sedih kehilangan, dan obsesi akan ilmu pengetahuan.

Tim AG34 memanfaatkan sekali ide cerita melalui narasinya. Karakter yang muncul di cerita asli Frankenstein karya Mary Shelley: adik dokter selaku asisten laboratorium (diperankan Wahyu Ramadhan), dan istri dokter (diperankan Rabiatul Adawiyah) dimunculkan alami, ga ada redundansi. Serta karakter yang saya duga adalah kembangan tim produksi AG34: Bong si pengamen (diperankan Heriadi). Bong adalah representasi dunia luar dan liar, yang merujuk pada buku asli, adalah esensi yang mengajarkan Frankenstein akan dunia kehidupan keduanya. Social class is a nature to live in.

Selasa, 25 Desember 2018

Akhirnya Pulang KKN






Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get.

 

−Forrest Gump

 

Sepanjang 2018, setidaknya ada dua perihal yang paling membuatku berdebar menunggu. Dua hal itu: menantikan PSM menjuarai Liga 1 dan pengumuman lokasi penempatan KKN. Sepanjang hari itu, saya menonaktifkan data jaringan ponsel. Hal itu biasanya kulakukan saat sedang berfokus menyelesaikan urusan satu per satu. Entah fakta itu rasanya penting atau tidak saya tuliskan di sini. Ketika mengaktifkan kembali jaringan, sudah bisa ditebak ada banyak notifikasi berebutan masuk. Saya tiba-tiba berdebar melihat dari jendela luar ruang percakapan Whatsapp. Pengumuman yang dua bulan belakangan saya nantikan sampai membuat saya bosan mengecek portal kampus, akhirnya diantarkan sendiri oleh teman-teman saya.

 

Kabupaten Toraja Utara adalah pemekaran Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2008[1]. Sementara saya belum pernah ke Toraja mana pun, 90% orang asing yang saya temui selama ini akan atau telah mengunjungi Toraja. Pesona alam Toraja selalu menjadi buah bibir teman-teman saya saat membincangkan rencana destinasi wisata lokal (saya belum pernah berhasil ikut). Maka wajar bila saya sangat girang mengetahui saya akan ditempatkan di Toraja Utara.

Lima hari sebelum keberangkatan saya masih sibuk mengurus banyak hal sehingga saya tidak sempat melakukan persiapan khusus seperti riset lokasi, bahkan packing pakaian pun saya lakukan 4 jam sebelum berangkat. Keluarga dan teman-teman saya terus memberikan gambaran, saran dan peringatan yang entah sumbernya akurat dari pengalaman pribadi atau hanya prasangka saja. Tapi mendengar terlalu banyak sesuatu yang belum kita hadapi juga tidak bagus, kan?

Rombongan KKN Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara adalah rombongan angkatan 59 pertama yang diberangkatkan pada tanggal 9 November 2018. Masing-masing terdiri atas 2 posko. Di Toraja Utara tepatnya di Lembang Rantebua, posko 1 berbasis di Dusun Buntu Orongan dan posko 2 di Dusun Garuang. Terus terang awalnya saya berharap bus yang akan mengantar kami, bukannya berdesakan (literally berdesakan) dengan barang dalam mobil avanza. Rombongan kami tiba pukul 11 malam dan disambut dengan hangat oleh Bunda dan dua anaknya, Chairul dan Dilla. Sekadar kalian tahu bagaimana kuatnya pengaruh keluarga ini, meski baru satu jam tiba serta tanpa berekspektasi apa-apa, sejak malam itu saya bersyukur ditempatkan di rumah Bunda.

Jumat, 26 Oktober 2018

Itu yang Bentrok, Tidak Pernah Ikut CBT Emang?



Pagi-pagi betul ponselku sudah ribut dengan pemberitahuan pesan masuk. Segera kucek, grup obrolan daring angkatan sudah berseliweran kekhawatiran mahasiswa-mahasiswa semester akhir mengenai informasi diliburkannya kegiatan perkuliahan pasca bentrokan dua hari berturut-turut. Kabar diliburkannya perkuliahan sepanjang pekan ini sepertinya menjadi headline pagi yang hangat dengan tiga macam reaksi, paling tidak yang bisa kita lihat dari lini whatsapp story.

Bagi maba, statusnya tidak jauh dari perasaan senang akhirnya mendapat hari libur dadakan yang lamanya cukup untuk pergi jalan-jalan bahkan pulang kampung kilat. Reaksi yang kedua adalah kesal, kecewa, dan tidak terima. Dikasih libur padahal tidak minta. Mahasiswa semester akhir gitu lho, lagi sibuk-sibuknya bimbingan skripsi dan mengurus berkas. Ke kampus saja belum tentu ketemu dosen pembimbingnya, apalagi kalau tidak ke kampus. Lagipula, yang bentrok kan fakultas lain, ya, nggak, sis?

Reaksi ketiga adalah reaksi selain dari yang di atas. Keputusan pimpinan kampus yang meliburkan perkuliahan atas permintaan Kapolresta (seperti yang disebutkan dalam pesan siaran) bukankah terlihat seperti kebuntuan pihak kampus untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik destruktif yang dipicu oleh persoalan remah-remah chitato. Main futsal antar jurusanji bede nabilang orang, bagaimanami itu kalau pertandingan mewakili negara. Kalau sekadar untuk menunjukkan superior maskulinitas, kok, gitu amat.

Jumat, 06 April 2018

Eceng Gondok di Sungai Sinre’jala




Foto: Ekha



Eceng gondok adalah pemandangan biasa di sungai-sungai kota. Kota dengan segala polusinya, termasuk di sungai yang dihuni banyak sampah, mendukung pertumbuhan tanaman ini. Sungai berlumpur dengan aliran yang tenang karena terhambat sampah-sampah menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan eceng gondok.

 

 

Eceng gondok secara umum dianggap sebagai gulma. Meski anak-anak kecil bisa saja melihat tumbuhan ini sebagai penghias sungai, serupa teratai. Eceng gondok dengan nama Latin Eichhornia Crassipes juga memiliki penyebutan yang berbeda di berbagai daerah, seperti dalam bahasa Makassar disebut capo-capo.

 

Eceng gondok adalah tanaman hidrogami, atau penyerbukannya dibantu oleh air. Selain itu, proses pertumbuhannya sangat cepat dan mudah menyebar menutupi permukaan air, oleh karena itu tanaman ini termasuk gulma yang dapat menghambat oksigen dalam air sehingga mengganggu kehidupan ikan.

 

Tanaman air ini juga menjadi penyebab pendangkalan sungai. Eceng gondok yang mati akan layu dan tenggelam, menumpuk di dasar sungai. Selain itu, permukaan daun eceng gondok yang lebar akan mempercepat penguapan dan mengurangi volume air.

 

Pertumbuhannya yang cepat juga mengganggu lalu lintas air. Seperti yang diutarakan Ibu Milani yang saya temui di depan rumahnya yang langsung menghadap ke sungai. Kadang ada perahu kecil yang menjala ikan di sungai dan langsung dijual di rumah-rumah pinggir sungai, tapi itu kondisional, karena jika sungai tertutupi eceng gondok, nelayan sungai tidak bisa lewat. “Biasanya ada orang menjala di sini baru na jual mi dekat-dekat sini. Kalau tertutup ki eceng gondok kayak begini, lewat saja tidak bisa,” terang Ibu Milani. Jenis ikan yang biasanya terjala adalah ikan nila, ikan gabus, dan ikan air tawar lainnya.

 

Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa BRT Berhenti Beroperasi dan Sebagainya






Sepanjang Januari hingga awal bulan Februari, saya kebetulan lumayan sering bepergian keliling Makassar. Kota yang juga mendefinisikan diriku namun semakin sulit kupahami, saya khawatir ia terasa asing seiring waktu.

Beberapa minggu keliling kota ke sana-sini untuk berbagai urusan, saya menyadari ada yang berbeda di jalanan kota yang semakin tua semakin liar. Tidak satupun BRT menampakkan knalpotnya, termasuk di pusat-pusat perbelanjaan kota. Apakah hanya saya atau memang BRT istirahat mengaspal?

Kira-kira kenapa BRT harus berhenti beroperasi sementara atau selamanya?


Senin, 13 November 2017

Sudut yang Asik Untuk Nongkrong Sendiri di Kampus 2 UIN Alauddin Makassar




Sesupel-supelnya atau segaul-gaulnya seseorang , terkadang kita butuh yang namanya kesendirian. Menjauh dari hingar bingar massa. Dan ini manusiawi. Karena manusia selain makhluk sosial, juga merupakan makhluk individu.

Meskipun tidak lama, menyendiri memberikan apa yang tidak bisa didapatkan dari kerumunan: ketenangan. Sebagian orang menyendiri karena sedang jenuh atau banyak pikiran. Sebagian lain karena sedang mengerjakan sesuatu yang menyita fokus seperti membaca atau melukis. Sebagian lagi menyendiri karena orang itu dari sononya memang suka sendiri *eaaa

Kalau saya? Kalau saya sih selalu menyendiri setiap hari, terutama saat mandi, buang air, atau tidur. YAIYALAHHH.
Memangnya harus menyendiri supaya tenang? Bukankah berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang disayang kita bisa tenang, damai, dan bahagia?
Jadi ya sendiri belum tentu berarti menutup diri. Sendiri bisa saja karena waktunya untuk sendiri. Azek.

Ini, saya kasih daftar beberapa tempat untuk nongkrong tenang di kampus 2 UIN Alauddin Makassar, siapa tau kalian butuh. Kalau tidak butuh, close tab mi ki’ sekarang dende astaga gampangji toh.




1.     Perpustakaan

Perpustakaan memang tempat paling top saat harus menghabiskan waktu seorang diri. Karena tempatnya yang meski ramai pengunjung, tetap senyap. Kadang ada sih suara-suara kedengaran, terutama suara mahasiswa sedang diskusi sambil bisik-bisikan. Tapi masih bisa dimaafkan kok, kalau kalian tidak suka, move ke sudut lain lah, gak usah komplain kalau cuma begitu, perpus kan luas men. Jangan mi serius dudu.
Kelebihan utamanya, di perpus kita bisa baca buku atau sekadar numpang hotspot bagi para fakir kuota.



2.     Halte
Ada juga kok orang di halte cuma numpang duduk meski tidak sedang menunggu. Mau menunggu siapa? Menunggu abang datang meminang? Nanti ajalah, tunggu adek wisuda dulu hahaha
Kalau mau menyendiri di halte lebih syahdu, bisa sambil membaca buku, menggambar, atau sambil main game online (Hayday! Hayday!)


Selasa, 16 Mei 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realize how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.

Selasa, 28 Februari 2017

Picnic At The Bus Transmamminasata




Kelas 3 SD adalah terakhir kali aku merasakan naik bus Damri. Waktu itu aku menemani almarhumah nenek mengunjungi rumah salah seorang saudarinya di Kabupaten Gowa, tepatnya daerah Pallangga dekat stadion Kalegowa.

Posisi duduk andalan tentu saja di bagian belakang, dan aku senang sekali kalau kebagian tempat duduk paling belakang dan samping jendela. Karena posisi bangku belakang lebih tinggi dari bangku lainnya.

Selain itu, aku sebisa mungkin menghindari angin dari jendela yang terbuka dan ac kendaraan, soalnya aku ini tipis, mudah sekali masuk angin hahaha.

Serius. 

Penyakit sedikit-sedikit-masuk-angin ini begitu menyusahkan dan menganggu integritasku sebagai penikmat perjalanan jarak jauh
*cyah

Setelah bus tidak beroperasi lagi, angkot atau bekennya di sini disebut pete'-pete' ini kemudian menjadi andalan masyarakat untuk bepergian ke daerah sekitaran kota. 

Tapi nampaknya jumlah pete-pete' yang mengaspal di jalan raya begitu banyak dan kerap menjadi biang kemacetan saat mengambil, menurunkan, dan menunggu penumpang di bahu jalan, terutama di tempat publik yang sebenarnya di pinggir jalan tersebut sudah disesaki kendaraan yang parkir. 

Dan kemudian Makassar butuh diupgrade perihal transportasi publiknya. Faktanya, banyaknya angkot yang kerap menimbulkan macet dan ngetem di bahu jalan, sopir ugal-ugalan, dan kejahatan di jalan yang terjadi membuat warga (termasuk daku) mendambakan transportasi publik yang nyaman dan aman.

Ah sebelumnya maaf tulisan ini bukan bermaksud untuk sok tahu, menyinggung atau merendahkan pihak tertentu, bukan kok. Stay positive ya.

Oke kembali membicarakan bus, saat pertama mendengar berita comebacknya *tjieh bahasanya dengan wujud yang lebih oke, aku dengan semangat dan antusias yang sebenarnya tidak begitu perlu, sangat sangat ingin untuk naik bus ini. Tinggal cari waktu, juga travelmate dong. Emang mau kemana? Ya tidak ada tujuan mau kemana sih tapi di sini tujuanku kan naik bus keliling kota, terserah aku kan hahaha 


Kamis, 14 November 2013

Mainstream of Sinetron Indonesia







Oh Sinetron
Sinetron, yang konon kependekan dari sinema elektronik, sangat marak di pertelevisian Indonesia. Sekitar tahun 90-an, sinetron menjadi tayangan favorit penonton Indonesia terutama remaja dan wanita. Puncaknya tahun 2000-an mulai bermunculan sinetron dengan skrip “kepanjangan” atau dipaksa panjang gitu deh, sebut saja beberapa judul yang sempat saya ingat (jaman2 SD dulu, kekeke).




Sebenarnya saya jarang nonton yang namanya sinetron, kurang suka malah. Jengkelnya lagi kalau sedang asyik masyuk nonton, eh datang mama, tante, atau nenek yang mengambil alih TV. Diganti lah channelnya. Apalagi kalau bukan yang menayangkan Sinetron. Apatuh yang pernah tren di TV? Diantaranya ada [sensor] Tukang Haji Naik Bubur, Putih Abu-Gosok, Cinta Fitrah season 1-6, Putri yang Ditambal, dan sederet sinetron lain yang.. hmm.. Well, fakta sebenarnyanya saya salut dengan sinetron yang ide ceritanya unik, tapi faktanya lagi, pihak produser seakan tidak rela untuk merampungkan jalan cerita dengan semestinya. Dibuatlah terus lanjutannya, dengan menambah problema-problema tokohnya, untuk meneruskan rating. Jadilah ceritanya gak karuan dan tidak jarang menyimpang dari plot awal.

Selain sinetron drama bersambung, ada juga yang play-out. Dengan konflik tidak jauh-jauh dari keluarga, cinta, dan harta, yang terakhir ini yang sepertinya menjadi menu utama sinetron play-out yang saat ini punya jatah tayang tiap hari. Seakan menekankan pernyataan “Uang tak kenal saudara”, meski sekalipun sang pelaku adalah ibunya, anaknya, atau orang terdekat lainnya. Haha, itu sih namanya gila harta, sampai rela mengorbankan orang yang mestinya dikasihi.

Some Mistakes
Bukannya saya sok mengumbar-umbar ataupun bermaksud menghina drama sinetron, tidak kok :) dibawah ini cuma ulasan ke’absurd’an scene sinetron yang MAINSTREAM, dari masa ke masa, seperti kutu loncat. (heran -_- emangnya penulis naskahnya sama, ya?)
1.       Adegan Tabrakan, the weirdest scene di sinetron. Memang tidak salah kalau di dalam ceritanya ada pemain yang diceritakan tertabrak. Tapi yang aneh disini adalah, kendaraan (biasanya mobil) jaraknya masih jauh dari korban, kalau difikir sih, si korban tidak mungkin tertabrak oleh kendaraan yang jaraknya masih jauh tersebut. Tapi bukannya menghindar, si korban malah stay di tempat sambil teriak. Menunggu keajaiban datang menolong, ya?
2.       Hamil. Tidak ada yang salah dengan kehamilan. Justru kehamilan adalah karunia dari Allah. Entah kenapa kehamilan disini dapat dijadikan senjata ataupun kelemahan. Bagi antagonis, dia menggunakan rencana hamil atau pura-pura hamil untuk mendapatkan si cowok. Saya juga sempat menonton dimana protagonist yang tengah mengandung harus menghadapi antagonis yang tidak menyukai kehamilannya dan berencana untuk menggugurkan janin tersebut. Seolah hal tersebut layak untuk menjadi tontonan sehari-hari.
3.       Si baik dan si jahat, beda sifatnya seakan langit dan bumi. See? Protagonist baiknya tiada tara, sedangkan Antagonist jahatnya melebihi batas kewajaran.. tidak kehabisan akal untuk menyusahkan orang baik demi kepentingan diri sendiri. Si Protagonist dibuat sangat sangat baik, polos, dan pemaaf. Sangat klasik. Kadang yang jadi penonton jadi emosi dan memaki-maki di depan TV *Lol
4.       Apapun demi harta. Yup, banyak sinetron yang mengangkat tema ini. Menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh kekayaan. Keluarga pun tega dijual. Dan pelaku disini bukan orang yang pandai bersyukur dan tidak pernah puas. Tapi tenang kok, sinetron Indonesia always happy ending.
5.       Anak kecil pun jatuh cinta. Wajar kok. Tapi setidaknya bisa disesuaikan dengan kewajaran usia anak-anak. Masa kecil harusnya masa bermain, kasihan melihat mereka galau karena cinta monyet.
6.       Begitu mudahnya adu domba. Betul banget. Yang di kompori juga gak nyadar-nyadar kalau lagi di adu domba, percaya begitu saja. Bahkan, yang diluar kelogisan sekalipun. Well, mungkin begitulah jalan cerita yang dikehendaki pihak pembuat sinetron.
7.       Diracuni. Pura-pura buatin minuman dan blep, racun pun dimasukkan. Cara ini sering digunakan para antagonis untuk menyingkirkan seseorang.
8.       Adegan Pak ustad yang menurut saja tidak semestinya. Memang tidak semua, tapi saya mendapati beberapa scene yang terlalu dipaksakan. Contohnya di salah satu FTV (lupa judul) yang bertokoh seorang ustad muda yang keren, tapi ceritanya disitu sang ustad sibuk pacaran, malah scene untuk kegiatan keagamaannya jarang banget. Beberapa pernyataan pun sempat luput, seperti jarak dengan wanita yang bukan muhrimnya.
9.       Cinderella metropolitan. Klasik. Sering banget tuh, si cewek jadi bulan-bulanan tapi gak perlu khawatir karena ada sang Pangeran yang akan datang menyelamatkan.
10.   Kejar-kejaran yang NG. Gak bakal ketangkeeep.
11.   Monologue dalam hati. Sinetron Indonesia memang khas banget untuk yang satu ini. Pikiran sang tokoh disampaikan melalui sololiqui, sehingga penonton sangat mudah menebak.

12.   Ending? Yang antagonis ujung-ujungnya tobat, kalau enggak, masuk penjara, atau ditabrak, lumpuh, sampai R.I.P
Sebenarnya masih banyak daftar lainnya, tapi sudah capek ngetik.

Refleksi

 Sinetron sebenarnya gak melulu mainstream, tapi terkadang gak lepas dari konflik yang dipaksakan dan tokoh yang kontras satu sama lain. Intinya, jarang ada sinetron yang mendidik di tiap episodenya. Hmm.. well bagaimanapun kita harus jadi penonton yang cerdas, jangan di bodohi oleh sinetron.

And last but not least, Ambil baiknya dan buang buruknya, udah gitu aja.