Minggu, 30 November 2025
Katanya Multitasking Itu Mitos
Sabtu, 08 April 2023
Arsip; Kelas Merajut Program CSR Mayora di Desa Sokkolia
![]() |
Minggu, 31 Juli 2022
Waktu Ibu di Mama Cafe
Si ibu satu anak ini tampaknya ada-ada saja keinginannya. Seperti hari ini, saya tiba-tiba bertanya ke Ayah Zen, apakah bisa ditinggal berdua dengan Zen aja. Eh, diiyain lagi. Akhirnya saya pun segera berganti kostum dari daster ke pakaian kasual, dan melipir ke Mama Cafe. Sempat ada jeda waktu sebelum berangkat sejak saya bingung mau nongkrong di mana. Kesempatan langka ini ingin kumanfaatkan sebaikkk mungkin. Yeah, ga selangka itu sih, soalnya Ayah selalu fine ditinggal berdua Zen, saat saya masak atau sibuk ngapain aja di rumah. Tapi rasanya beda aja kalau keluar dari rumah. Kayak berratttt lama jauh dari Zen. Maklum sih, dalam sebulan lebih sering 24 jam di rumah terus, kalaupun keluar ya paling 1-2 kali misal ke pasar atau rumah keluarga. Ya, intinya saya senang bisa ngafe. Tapi di sini pun masih mikirin anak xixixixixi
Senin, 20 Juni 2022
Meet Mocca On The Night Like This~
I was at home with my husband and Zen, until the end of the afternoon, Me and Fitri (my sister-in-law) thought about going to TSM. That night, there was a Telkomsel anniversary event that invited the band Mocca. I didn't plan on going there at first, even though I was excited because this was Mocca's first performance in Makassar since the pandemic. But in the end I decided to attend after my husband assured me he could look after Zen for the next few hours.
The last time I had the opportunity to watch Mocca was a long time ago, at Urban GiGS in March 2017.
Rabu, 15 Juni 2022
Cuti Melahirkan 6 Bulan?
“RUU KIA juga mengatur cuti melahirkan paling sedikit enam bulan, serta tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan. Selain itu, ibu yang cuti hamil harus tetap memperoleh gaji dari jaminan sosial perusahaan maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan," [1]
Sabtu, 19 Maret 2022
Mencicipi Kaledo, Makanan Khas Palu di Makassar
Jumat, 18 Maret 2022
Usia 30; Berjalan Jauh Tumbuh Bersama
Seringkali atau bahkan selalu, saya merasa takjub dengan Suami. Padahal bisa dibilang, semua yang dia lakukan semestinya hanya hal biasa. Memperlakukan orang lain dengan baik, menemani bercerita, mendengarkan dan tidak langsung menghakimi, sampai melakukan pekerjaan domestik pun, itu, kan, hal biasa yang seharusnya kita lakukan dan dapatkan sembari hidup berdampingan dengan orang lain. Namun rasanya beruntung sekali saya bisa menemukannya dari Suami.
Kamis, 30 Desember 2021
Akhirnya Berangkat ke Palu; Kapan Bisa ke Sini Lagi?
| Pantai Tanjung Karang di Donggala |
Tulisan saya lanjut di entri berbeda karena sumpah ngos-ngosan banget ngetiknya. Kasih jeda biar ga cape.
Minggu, 26 Desember 2021
Saya dan Suami bangun pagi tapi bukan yang pagi banget gitu, masih ngusel-ngusel di kasur.. dan papa mertua udah siapin sarapan. Guyyss ini hari pertamaku nginap di rumah Suami tapi kek malu-maluin ga sih bangun kesiangan? Sehabis makan dan mandi, kami serumah bersiap-siap untuk keluar. Pertama untuk nyekar di makam almarhumah mama mertua dan almarhum kakak Suami. Lokasinya di Biromaru. Akhirnya saya menginjakkan kaki ke tempat Suami tinggal dan dibesarkan sejak kelas 4 SD, sebelum akhirnya Suami kuliah dan merantau di Makassar sampai kami nikah.
Rabu, 29 Desember 2021
Akhirnya Berangkat ke Palu; Setelah Perjuangan Panjang
Rabu, 26 Mei 2021
Merancang Tata Letak dan Ilustrasi Buku Esai Bangku Depan
Sudah sejak Januari yang lalu saya dihubungi seorang senior dari kampus, Bang Jul, untuk mengerjakan buku esai dari penerbitan indie, Liyan Pustaka, yang sedang beliau garap. Tapi baru benar-benar bisa saya selesaikan 3 bulan kemudian. Buku kumpulan esai ini selain anak pertama Liyan Pustaka, juga buku pertama si penulis, Askar Nur. Buku ini memuat esai yang sebagian telah dimuat media kampus, media lokal dan media nasional sepanjang masa produktif kak Askar.
But tbh, sudah agak lama rasanya sejak terakhir saya mengerjakan layouting. Itupun saya melayout halaman koran, yang tentu saja berbeda dengan melayout sebuah buku. Masih banyak bingungnya. Terlebih saya sedang tidak dalam kondisi fisik yang nyaman.
Beruntung, ‘client’ saya sangat terbuka dan tidak mengekang saya mengenai deadline. Tentu saja Bang Jul beberapa kali menghubungi saya untuk memantau progress. Saya sedikit sungkan jika dalam berapa waktu istirahat tidak ada kemajuan signifikan. Tapi selama itu saya akan terus memberi kabar, hehe karena saya tahu rasanya digantung tidak enak, lebih enak diajak makan ga sih. Lagian saya kan sudah dipercayakan, jadi saya harus percaya diri (pdhl minder bgt aww) :’)
Untuk tulisan-tulisan kak Askar, kebanyakan sudah saya baca semua. Saya cukup update dengan karya teman-teman di lingkungan kampus. Meski ada juga beberapa tulisan ̶yang dari dulu, bagi saya tidak sesuai dengan nilai pemahaman yang kuiyakan, namun kupikir perbedaan pandangan itu tidak semata untuk diperdebatkan saja. Ia juga menjadi bahan refleksi dan kita bisa belajar memancing pikiran kritis dari sana.
Kamis, 13 Mei 2021
Hari Lebaran 1442H/2021
Pagi tadi kami melaksanakan salat ied di Masjid Al Markaz Al Islami. Masjid lumayan penuh. Berbeda dengan lebaran tahun 2020 lalu yang cukup sepi bisa dibilang, prokesnya ketat dan masyarakat disarankan untuk salat ied di rumah bersama keluarga. Selesai salat ied, kami singgah ke rumah keluarga suami, di sini saya makan daging dan burasa’. Lalu ke rumah kakek, tidak lama, mungkin 45 menitan.
Sampai di rumah, saya dan suami cuma rebahan aja di kamar sambil ngobrol, tidak lama teman-teman suami datang. Baru pukul 11 siang, mungkin mereka masih kenyang abis makan sebelum ke sini, jadi saya memilih tidur siang.
Tahu-tahunya saya terbangun sudah lewat pukul 2 siang dan dari kamar masih terdengar suara suami berbincang dengan teman-temannya.
Mau tidak mau saya mempersiapkan diri untuk menyuguhkan makanan, hiksss. Maaf responku miris, bukan apanya. Kami cuma punya ayam kari (pesan yang jadi di mama hehe) dari semalam, dan ketupat buras beli di pasar. Ketika saya panaskan di kukusan malah basah, lembek dan bentuknya tidak menggugah selera :( seperti yang barusan saya bilang, mau tidak mau banget lah saya menghidangkan ala kadarnya.
Soalnya ga nyangka hari ini bakalan ada tamu ke rumah kami.
Malamnya, teman-teman sekolahku juga datang. Saya ga perlu mikir keras dengan suguhan karenaaa tentu saja mereka bosan seharian makan ayam kari dan daging, maka mereka cuma minta dibuatkan Indomie. Gila sih Indomie ini. Selalu dicari tiap sore atau malam abis lebaran. Kalau gak Indomie, ya bakso Abang-Abang yang dicari.
Masuk maghrib saya dan suami kelaparan, baru ingat sisa ayam karinya lupa dimasukkan ke kulkas atau dipanaskan dulu… jadi sepanci itu basi semua. Istigfar banyak-banyak. Dosa banget menyia-nyiakan ayam kari. Hari jumat dan sabtu besok sudah ada jadwal mengunjungi rumah keluarga dan teman. Di hari minggunya giliran keluarga yang datang mengunjungi kami. Tapi soal masak sih sudah ada mama dan adek yang datang membantu.
Tepar abis beres-beres yang tidak seberapa, kami pun istirahat~ Sekian.
Minggu, 10 Januari 2021
Kencan Bioskop Pertama dengan Suami
Terakhir saya menonton film sekitar awal Maret 2020, dan karena isu lockdown sudah beredar di ibukota Jakarta, saat itu saya berpikir bahwa hanya menghitung hari saja hingga kasus corona muncul di Makassar. Betul saja, tidak menunggu lama sudah ada pengumuman libur untuk semua situs di makassar termasuk kantor dan sekolah juga.
Tentu saja di masa awal pandemi siapa sih yang mau ngeluh ga bisa ke bioskop lagi. Semuanya bisa diatasi dengan OTT seperti Netflix, Iflix, dan lain-lain. Pokoknya musibah pandemi bakalan mengubah banyak pola hidup kita.
Terhitung 11 bulan saya tidak pernah nonton ke bioskop, akhirnya saya ke sana lagi ditemani suami untuk pertama kalinya. Itupun sebenarnya karena suami yang tertarik nonton filmnya Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba: Mugen Train. Tbh, saya belum tahu anime tersebut, jadi kalau langsung nonton filmnya bakalan susah ngerti. Tapi karena terlanjur sudah pesan tiket demi kencan sama suami saya gas lah marathon animenya 2 hari sebelum pergi nonton, panduan dari suami karena filmnya adalah season 2 dari animenya. Tentu saya tidak bisa 100% menyimak, maka banyak kali saya forward di scene yang panjang. Oh ya, tidak perlu worry sobat, sebab saya bersemedi sambil ‘dibimbing’ suami, biar tetap berada di jalur yang benar. Sungguh 2 hari yang sibuk.
Untuk pemesanan tiket, hanya berlaku online. Saya pesan tiketnya di aplikasi CGV. Di lokasi pun belum bisa order makanan, hehe, gabisa jajan popcorn gaes. Takpelah yang penting nonton sama suami yey.
Filmnya sedih sekali hiks, tapi tak mau spoiler, serius endingnya sad huhuhu. Yang sad-nya lagi, saat di pertengahan menuju di klimaks film, saya sempat tertidur (hehe) entah berapa lama mungkin karena kena mantra Enmu atau abis begadang malamnya maraton anime atau karena saya lapar, nyaris kehilangan momen epic.
Jumat, 27 Maret 2020
Corona dan Yuzuru Hanyu
![]() |
| Dokumentasi pribadi. Hari pertama bioskop CGV close karena pandemi. |
Siapa yang sangka sebuah virus bisa meliburkan seluruh sekolah dan kantor selama 2 minggu. 2 minggu yang bisa berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saya takut membayangkan nasib manusia —bukan bumi tentu saja, nasib bumi baik-baik saja sampai hari kiamat tiba.
Tapi libur tidak berlaku untuk semua orang.
Banyak yang masih harus bekerja, meski penuh khawatir, untuk bekerja mencari nafkah di luar sana.
Kalau kamu diliburkan oleh kantormu dan masih diberi gaji. Kamu 'sangat beruntung'. Kalau kamu masih bisa kerja dari rumah, tidak kehilangan pekerjaan, tentu kamu juga 'beruntung'.
Banyak karyawan, termasuk seseorang yang kukenal dipaksa untuk ‘resign’ dari pekerjaannya. Ini akal modus perusahaan agar tidak perlu memberi pesangon ketika karyawan yang meminta keluar, perusahaan tidak mau menanggung karyawannya selama lockdown.
Sabtu, 18 Januari 2020
Salam Cinta untuk Semua Perempuan yang Berlawan (Termasuk Menolak Catcalling)
Tulisan Aulia mengungkapkan kegelisahan yang sama dengan semua perempuan saat harus berjalan kaki. Termasuk perempuan yang menggunakan hijab juga cadar pun tetap tidak bebas dari catcalling. Meski muncul dengan variasi yang berbeda. Saya sebut beberapa contohnya ya: Assalamualaikum ukhti. Masyaallah ukhti. calon istriku yang salihah. Dsb dsb yang kebanyakan terdengar cringey memang. Kalimat-kalimat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah pujian. Menurutnya, pujian mestilah bermaksud untuk membangun satu sama lain dalam prosesnya mengembangkan relasi antara pemberi dan penerima pesan. Bahkan bila yang dilontarkan adalah sebuah kalimat salam sekalipun tidak bisa kita lihat sebagai sebuah interaksi. Catcalling hanya eksis dari si pemberi. Kenapa banyak yang menutup mata betapa suitan seperti itu mampu membunuh kepercayaan diri seseorang yang tidak menyukainya. Selanjutnya bisa saja lebih berbahaya daripada catcalling. Karena ketidaksungkanan pelaku catcalling merupakan gambaran relasi kuasa yang timpang.
Minggu, 05 Januari 2020
Habitus Parasite
Senin, 25 November 2019
Arsip; Rock In Celebes 2019
Trans Studio Makassar,
23 November – 24 November 2019.
Semua gambar hanya diambil dengan kamera handphone Oppo A37.
Senin, 18 November 2019
Menari Bersama di Ruang Publik: Indonesia Menari 2019
Demi apa. Kenapa saya mau mau saja ketika saudari saya, Ikha mengajak untuk ikut Indonesia Menari 2019. Menari lho ini, dan public! Normalnya saya akan menjawab tidak. Tetapi karena Ikha yang minta supaya dia ada yang menemani, makanya saya hmm skuy lah. Karena menarinya ramai-ramai dengan peserta lain, jadi mungkin ga bakal ada yang merhatiin saya nari kecuali tim penilai. Ya betul zekali, saya tidak berniat mendapat penilaian tinggi karena sadar diri, maka dari itu saya memakai outfit segakmenonjol mungkin. Maafkan saya hei tim Indonesia Kaya, saya ikut cuma menambah daftar penerima goodie bag kalian. Anyway goodie bag-nya keren lho. Isinya marchendise kaos dan totebag canvas leather keren + sembako sabun, mie, teh javana dan produk Wings lainnya.
Ikha memberitahukan info event tersebut sekitar 2-3 bulan sebelumnya. Ada video di channel Youtube Indonesia Kaya yang bisa kita akses untuk belajar koreografi Indonesia Menari 2019. Peserta bisa dari berbagai kalangan usia, mau penari ataupun bukan, siapapun boleh asalkan bisa menarikan koreo secara lengkap. Peserta bisa individu, bisa juga kelompok 5-7 orang.
Musik pengiring Indonesia Menari 2019 ini terdiri dari 7 part sebagai berikut:
- Anging Mammiri
- Ondel Ondel
- Sik Sik Sibatumanikam
- Dek Sangke
- Gundul Pacul
- Manuk Dadali
- Closing
Ya memang konsepnya adalah menarikan tari Indonesia dengan konsep modern.
Acaranya serentak tanggal 17 November di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Makassar, Palembang, dan Medan. Untuk di Makassar, acaranya diadakan di Trans Studio Mall pukul 14.00 (tapi pas hari H ngaret sampai sekitar pukul 15.00)
***
Selama 2 bulan itu saya ngga ada persiapan sama sekali, hanya Ikha yang sesekali terlihat latihan. Kostum pun saya bingung. Nah di 2 minggu terakhir, barulah saya mati-matian menghafal koreo. Susah bos. Sudah tau diriku ini ga lihai menari, malah pede sekali latihan di hari-hari terakhir. Memang dari dulu saya selalu struggle dengan motorik. Saat belajar chord gitar saja, jari-jari ini rasanya berkelahi di atas fret.
Kamis, 31 Oktober 2019
Officially Illustrator
Entah ada angin apa.
Beberapa hari yang lalu ada DM masuk, dari seorang teman.
Sebuah kabar bahagia. Finally. Terima kasih Tuhan. Setelah sebulan dikeluarkan dari kampus, ada tawaran pekerjaan meski tidak sejalan dengan ijazah Sarjana Humanioraku. Menjadi ilustrator.
Selasa, 29 Oktober 2019
Senjakala Kota Nelayan
Rabu, 21 Agustus 2019
Wihsudah... Tapi Tak Seindah Instastory
Sore itu saya menangis sendirian dalam waktu yang tidak sebentar. Hanya seorang diri, di lantai 2 gedung dosen yang saat itu sedang sepi. Saya bahkan tidak sanggup mengajak bicara diri sendiri, untuk setidaknya, menenangkan diri. Saya memberi waktu pada diri saya sendiri mencairkan emosi selagi tidak ada orang lain yang melihat betapa jeleknya penampilanku saat itu. Seharian di kampus mengurus ina-inu.
Koridor yang sepi ini rasa-rasanya menyokong ambiance kesahajaan dalam kesendirian. Suara langkah kaki pun nyaris tidak terdengar. Saya perlahan bisa mengatur napas dan merilekskan otot-otot yang tegang. Saya mengatur ulang diri saya, membasuh wajah, melaksanakan salat Ashar masih di lantai yang sama saya menangis tadi. Saya menyelesaikan salat dengan perasaan yang lebih baik, bola mata berangsur dingin, jantung berdetak normal, dan gejolak di perut yang sedikit mereda. Saya mendambakan nasi dan sop ayam Bunda Adab. Semoga belum habis.
Hampir 1 jam yang lalu, saya berada di lantai 4. Berhadap-hadapan dengan dosen penguji yang kutemui sore ini. Saya menemui ibu dosen di ruangannya pukul 16.00 setelah pagi tadi tidak sempat atau menolak menguji skripsi saya pada jadwalnya. Saya mencoba menjelaskan permasalahannya di paragraf ini tapi saya tidak bisa menuliskannya dengan baik, kalimat di kepalaku bersusun bertele-tele dan itu menyedihkan. Saya mengakui kelalaian saya, tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa. Semuanya hectic, segala sesuatunya seperti untouchable.
***
Ketika pagi.
Saya tiba 30 menit lebih awal, menunggu di depan ruangan Ibu Dosen sambil membayangkan skenario terbaik dan terburuk—sejauh saya bisa membayangkan—yang bisa kujumpai begitu masuk ke ruangan tersebut.



















